dilahirkan pada 8hb. Oktober 1965 di Bekasi, Indonesia. Beliau merupakan cucu saudara kepada seorang ulama alam Melayu yang terkenal di Mekah iaitu Sheikh Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi atau Sheikh Nawawi Banten.
Sheikh Rohimuddin mendapat pendidikan awalnya di Pesantren Cirebon Jawa Barat. Seterusnya di Pesantren Lirboyo. Beliau seterusnya melanjutkan pengajiannya ke Universitas Syarif Hidayatullah di Jakarta. Kemudian beliau melanjutkan pengajian ke Universiti al-Azhar, Mesir untuk meneruskan pengajiannya. Selain belajar secara formal, beliau juga belajar secara tidak formal dengan beberapa ulama’ yang terkenal di serata Indonesia, Mekah dan Mesir.
Di antara guru-guru beliau adalah:
Ayah beliau sendiri : al-Marhum Kiyai Haji Nawawi. Bapa saudara beliau : al-Marhum Kiyai Haji Qurtubi. Kiyai Haji Maimun Zubir. Asy-Sheikh al-Habib Dr. Yusuf Mahyuddin al-Bakhur al-Hasani. Sheikh Umar Hasyim. Sheikh Ibrahim al-Khuli. Dr. Sa’ad Jawis. Sheikh Abdullah. Sheikh Dr. Ali Jum’ah (Mufti Republik Arab Mesir). al-Marhum Kiyai Mahrus Ali. al-Marhum Kiyai Umar Soleh. al-Marhum Kiyai Aqil Siraj. al-Marhum Kiyai Syadzeli. al-Marhum Sheikh Muhammad Yasin al-Fadani al-Hasani. al-Marhum Sheikh Mutawalli Asy-Sya’rawi. al-Marhum Sheikh Muhammad Zaki Ibrahim. al-Marhum Sheikh Qad al-Haq.
Dan ramai lagi ulama’-ulama’.
Buat masa ini beliau adalah merupakan di antara tenaga pengajar merangkap pengetua di Dar al-Hasani di Mesir, dan merupakan khalifah (muqaddam) kepada Sheikhuna Sidi Yusuf al-Hasani dalam thariqah asy-Syadhuliyah ad-Darqowiyah. Di samping itu, beliau juga giat memberi ta'lim kepada anak-anak Malaysia dan Indonesia yang menuntut di Mesir, di rumah-rumah dan di tempat-tempat organisasi mereka. Beliau juga sering menjadi tenaga pengajar jemputan di pelbagai pesantren dan organisasi. Di samping juga bakal menjadi tenaga pengajar di Ma'ahad Az-Zein di Bogor bagi membantu Sheikh Muhammad Nuruddin al-Banjari. Beliau adalah seorang tokoh ulama’ kontemporari di dalam mazhab Asy-Syafi’e. Salaam.. semoga ada manfa'at.. di bawah adalah program dakwah Sheikh Rohimuddin Nawawi al-Bantani
BULAN FEBUARI 2008 - Jadual tertakluk kepada perubahan
- Ahad, 3 Februari - Majlis selawat dan Hadrah-Darul Hasani, Bangi - 3-4 Februari - Program di Koleh Ar-Razi Pulau Pinang - 6 Februari - Program di Pondok Ust.Syarifuddin, Kelantan - 7-9 Februari - Program Sidi Rohim di Darul Anwar, Kelantan - 10-11 Februari - Program Sidi Rohim di Perak - 12 Februari - Program Sidi Rohim di Darul Tahzib, Pulau Pinang - 13 Februari - Program Sidi Rohim di Perlis (Maghrib) - 14 Februari - Program Sidi Rohim di Pondok Derang, Kedah - 15 Februari - Program Sidi Rohim di Kedah - 16 Februari - Program di Kolej Komuniti, Perak - 17 Februari - Program di Shah Alam - 18 Februari - Program dengan PKPIM - 19 Februari - Program bersama ABIM - 20-21 Februari - Program di Negeri Sembilan - 22 Februari - Program di Darul Hasani, Bangi - 23-24 Februari - Program di Masjid Al Falah, USJ9 - 25-28 Februari - Program di Darul Hasani, Bangi - 29 Februari - Program di Masjid UIA, Gombak
Kuliah zohor :25/2/2008 bertempat di Surau Menara Petronas. :26/2/2008 bertempat di Surau Menara Maybank.
Majlis salawat :3/2/2008 bertempat di Darul Hasani, Bangi. (Maghrib)
:17/2/2008 bertempat di Shah Alam. (Maghrib) :21/2/2008 bertempat di Negeri Sembilan. (Maghrib) :24/2/2008 bertempat di Darul Hasani, Bangi (Maghrib) :28/2/2008 bertempat di Darul Hasani, Bangi (Maghrib)
Alamat Darul Hasani: No:147, Jalan 3/23, Bangi Selangor Darul Ehsan sebarang pertanyaan sila hubungi, Ust.Faizul:013 584 6044
1. ciri-ciri seorang hamba yang celaka adalah : a. Ketika ilmu bertambah, maka semakin bertambah kesombongannya. b. Ketika bertambah amalannya, maka makin bertambah kebanggaan kepada dirinya sendiri dan penghinaan kepada orang lain. c. Ketika semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah pula kesombongannya.
2. ciri hamba yang mendapat kebahagiaan dan kemenangan: a. Ketika ilmu pengetahuannya bertambah, maka bertambah pula kerendahan hati dan rasa kasih sayangnya. b. Ketika bertambah amal-amalnya, semakin bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam melaksanakan perintah Allah. c. Ketika bertambah usia, maka semakin berkurang semua ambisi-ambisi keduniawiannya. d. Ketika harta bertambah, maka bertambah pula sifat kedermawanannya. e. Ketika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, maka bertambahlah pula kedekatan dirinya pada manusia dan semakin rendah hati kepada mereka.
3. Barangsiapa yang tidak melepaskan tali penghalang, maka tidak akan dibukakan hijab/satr penghalang.
4. Cinta itu merasa tentram bersama Allah serta merindukanNYA, merasa Allah-lah yang memberikan rasa musyahadahmu (persaksian) terhadap Allah bukan dengan dari persaksianmu terhadapaNYA.
5. Barangsiapa yang tidak melepaskan tali penghalang, maka tidak akan dibukakan hijab/satr penghalang.
6. Syekh Abu Madyan Al-Gautsi ra berkata: 42. Barangsiapa yang telah berpaling dari semua harga diri orang (tdk menganggu) karena adab (hormat), maka ia seorang sufi yang beradab (berakhlak).
7. Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan (penuh cobaan) , Tawwab (suka bertaubat) , dan Nassaa' (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat". (Silsilah Hadits Shahih Bukhari No. 2276).
8. Rasulullah SAW bersabda, ''Semua mata akan menangis pada hari kiamat, kecuali tiga mata. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.''
9. Orang-orang yang mahfudz (terpelihara oleh Allah) itu bertingkat-tingkat: Ada yang terpelihara dari kekafiran dan kesyirikan dengan hidayah; yang terpelihara dari dosa besar dan kecil dengan pengawasan; dan ada yang terpelihara dari segala bisikan dan kelalaian dengan Pemeliharaan Allah. 10. Lepaskan dunia kepada orang yang mengejarnya, menghadaplah kepada Tuhanmu, barangsiapa yang melepaskan dari hatinya kesibukan dunia, maka Allah menjadikan ia sebagai khadim NYA (Allah).
11. Jika hati telah terlepas dari syahwat maka ia dalam keadaan sehat. 12. Barangsiapa yang tidak dapat melepaskan nafsu bersama Allah maka ia dikalahkan oleh nafsunya 13. Imam Abu Madyan Al-Gautsi berkata: 18. Jika Allah yang menetapkan kedu-dukkanmu maka Ia juga yang memperkokohkannya, Jika engkau sendiri yang menetapkannya maka Allah akan menjatuhkanmu. “Ya Allah berilah kami faham tentang Engkau, karena kami tidak dapat memahami Engkau kecuali dengan (kehendak) Mu. 14. Barangsiapa yang mendengar dari seseorang, maka ia bersambung sanadnya
15. Syekh Abu Madyan Algautsi ra berkata: 125. Barangsiapa yang tidak patut untuk ma’rifat (mengenal Allah) maka disibukan dengan melihat amalnya (sebagai tandanya
16. Bermuamalahlah kepada siapapun dengan yang disenanginya tidak yang dibencinya. Kepada Ulama dengan mendengarkan dan rasa memerlukan yang baik, kepada ahlul ma’rifah dengan sopan tenang dan menunggu, dan kepada orag-orang yang berakhlak baik dengan sikap tauhid dan merendah diri.
17. Hendaklah ketika engkau bersama fuqara (orang-orang yang tak punya karena hanya berkecimpung di bidang da’wah dan ibadah) bersikap senang dan gembira; bersama kaum Sufi bersikap etis dan menjalin hubungan baik; bersama para Syekh (murabbi) pandai mengambil pelajaran dan bersama orang Arifi (waliallah) bersikap tawadlu dan merendah.
18. Syekh Abu Madyan Al-Gautsi ra berkata: 119. Seorang Syekh (Murabbi) adalah seorang yang kehadirannya membuat semangat jiwamu bulat bersama Allah, dan di saat jauh darimu kesan sinar imannya dapat memeliharamu.
19. Orang yang merasa cukup dengan kepandaian berkata dalam ilmunya tanpa disertai hakikat ilmu maka ia telah zindik dan terputus (dariNYA); Orang yang merasa cukup dengan ibadah tanpa fikih maka ia telah keluar dan pembuat bid’ah; orang yang merasa cukup dengan fikih tanpa sifat wara’ maka ia akan tertipu daya oleh nafsunya; Maka orang yang telah melaksanakan kewajiban dengan menyandang semuanya, maka ia akan selamat (lahir-bathin) dan terhormat. Barangsiapa yang tidak mengambil adab dari ahlinya maka ia akan merusak pengikutinya.
20. Jika engkau melihat seorang tampak keramat dan keluar biasaannya maka janganlah engkau kagum, namun lihat dahulu bagaimana dengan pelaksanaan perintah dan menjauhi larang Allah (taqwa).
21. Bergaul dengan orang-orang bid’ah akan mematikan hati, maka hindarilah agar setelah itu kesialannya tidak menular kepadamu walaupun sedikit.
22. Bergaul dengan orang-orang bid’ah akan mematikan hati, maka hindarilah agar setelah itu kesialannya tidak menular kepadamu walaupun sedikit.
23. Syekh Abu Madyan Al-Gautsi ra berkata: 115. Barangsiapa yang tentram bersama makhluk maka ia menjadi jauh dengan Allah disebabkan kelalaian, artinya: bukti jauhnya dia dari Allah, karena makhluk jika tidak membuka jalan kebaikan untukmu, maka ia akan membuatmu lalai dari Allah. 24. Barangsiapa telah berkhianat kepada Allah dalam kesunyian/kesendirian, maka akan dirobek tirai perlindungan (pemeliharaan) oleh Allah di tengah banyak orang.
25.Syekh Yahya bin Mu'adz ra berkata: Jatuhnya derajat seorang hamba (di depan Allah) adalah mengaku-aku dusta.
26.Sykeh Yahya bin Mu'adz ra berkata: Keinginan dilihat orang dalam beramal adalah hamparan riya
27.Syekh Yahya bin Mu'adz ra berkata: Janganlah engkau menjadi orang yang sangat berkeinginan untuk memperbaiki lahiriyah yang sebenarnya hanya untuk makhluk, yang tidak ada pahalanya, bahkan terkena siksa, serta membiarkan perbaikan bathin yang dia itu untuk Allah yang berpahala dan tidak ada siksa atasnya., 28.Syekh Yahya bin Mu'adz ra berkata: Wahai manusia, engkau tidak akan merindukan TUHANmu kecuali jika engkau jauhkan dari hatimu MakhlukNYA.
29.Syekh Yahya bin Mu'adz ra berkata: Sebiji sawi cinta Allah itu lebih aku sukai daripada beribadah 70 tahun tanpa cinta
1. Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini? Qur'an Menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200) Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Al-Baqarah : 45) 2. Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ? Qur'an Menjawab : ………..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : 87) darul hasani: Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ? Qur'an Menjawab : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)
3. Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini? Qur'an Menjawab : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya………. (Al-Baqarah : 286)
4. Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ? Qur'an Menjawab : ………. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)
5. Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji ? Qur'an Menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut : 2). Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3)
6. SYARAT-SYARAT POKOK TAUBAT 1.menyesali secara serius kesalahan masa lalu, harus ada perasaan bersalah, bahkan merasa jijik/ merasa kotor ketika mengingat masa lalu yang buruk 2. mencabut lepas secara total saat ini juga semua perbuatan buruk yang bertentangan dengan agama 3.meniatkan dengan sungguh-sungguh (komitmen yang keras) untuk tidak kembali ke masa lalu yang buruk 4. memurnikan perbuatan : hanya minta yang halal, menolak yang haram, membayar hutang dosa masa lalu sebisanya, hutang dosa pada Allah mudah dilakukan sedang hutang dosa pada manusia harus dilakukan langsung (kalau tidak sanggup, mintalah tolong agar Allah yang membayarkannya, sungguh Allah Maha Penolong dan Maha Pengampun)
5. Obatmu ada dalam dirimu tapi engkau tdk melihatnya. Penyakitpun dtg dari dirimu tapi engkau tdk merasa. Engkau mengira bahwa kamu adalah benda yang kecil. Sedang dalam dirimu mencakup semua alam raya itu.
1. Takut (kpd Allah) adalah sebuah cambuk penggiring dan penghalang, penggiring kpd taat dan penghalang dari maksiat. 2. Allah SWT telah menjadikan hati ahli dunia sebagai tempat kelalaian dan was-was, dan Allah menjadikan hati orang arifin sebagai tempat dzikir dan senang bersama-NYA. 3. Syekh Abu Madyan Al-Gautsy r.a berkata: Ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu Hukum-hukum peribatan hamba, dan ilmu yang paling luhur adalah ilmu Pengesaan Allah (Tauhid) 4. Syekh Abu Madyan Al-Gautsy r.a berkata:Kefaqiran adalah cahaya selama engkau menutupinya, namun jika engkau menampakkannya, maka hilanglah cahayanya. darul hasani: 27. Orang-orang jujur (sidiq) memang sedikit di kalangan orang soleh. darul hasani: 26. Barangsiapa yang murni karena Allah dalam muamalah/ interaksi kpd orang, maka ia telah selamat dari penyakit pengaku-aku dusta darul hasani: 25. Futuwah (kesatria) melihat kebaikan orang lain dab menutup mata dari keburukannya 5. Syekh Abu Madyan Al-Gautsy r.a berkata: 24. Futuwah (kesatria) adalah tidak sibuk dengan makhluk dan melupakan Khalik (Allah)
6. Hamba adalah orang semua harapannya hanya kepada Tuhannya (terputus daru selain-NYA) 7. Sungguh berbeda antara yang seluruh beban pikirannya kepada bidadari dan istana dengan yang beban pikirannya terbukanya hijab dan senantiasa hadir (bersama Allah). darul hasani: Syekh Abu Madyan Al-Gautsy r.a berkata: 38. Lepaskan dunia kepada orang yang mengejarnya, menghadaplah kepada Tuhanmu, barangsiapa yang melepaskan dari hatinya kesibukan dari dunia maka Allah menjadikan dunia khidmat kepadanya
8. Hilangnya rasa sesal dan menangis dalam maqam suluk (sebagai murid) merupakan salah satu tanda kerendahan jiwa.
9. Barangsiapa yang tidak melaksanakan etika Bidayah (sebagai pemula), maka bagaimana dapat istiqamah baginya mengaku berbagai akhlak/kedudukan ahlunnihayah (sebagai org sempurna). Anakku… Sesungguhnya lelaki yang tergila-gila kepada Laila terbunuh oleh cintanya; Qarun terbunuh oleh kecintaannya kepada harta; Firaun dan Namruz terbunuh kerana kecintaannya pada kedudukannya. Adapun Sayyidina Hamzah, Ja’afar, Hanzhalah dan sekalian sahabat radiyallahu ‘anhum gugur demi cintanya kepada ALLAH dan RasulNya. Maka alangkah jauhnya perbedaan antara kedua golongan tersebut. Anakku... Sesungguhnya perasaan itu apabila bergelojak pada hal keduniaan, maka akan memayahkan dirinya sendiri dan kepayahan yang membebankan, menyakitkan, gelisah, gusar dan membuatkan engkau tidak bisa tidur.....tapi kalau perasaanmu bergelojak dalam menyintai DIA maka ia cukup menenangkanmu.... Anakku... Seandainya kau yaqin dan ikhlas dalam ubudiyyahmu maka, DIA akan sempurnakan atau selesaikan masalahmu. Usahlah kau gusarkan. Jangan terburu-buru. Perbaiki hubunganmu denganNYA.... Ingatlah syair ini... Likulli syaiin iza faaraqtahu ‘iwadhun # wa laisa lillah in faraqta min ‘iwadh “Bagi tiap-tiap sesuatu ada penggantinya, apabila kau bercerai/berpisah dengannya. Dan tidak terdapat pengganti bagi ALLAH jika engkau bercerai denganNYA. .... Fahamkan Sheikh Ibn ‘Atho’illah berkata dalam Hikamnya: Ma ahbabta syaian illa kunta lahu ‘abdan, wahuwa la yuhibbu an takuna lighairi ‘abdan “Tidaklah engkau mencintai sesuatu melainkan engkau adalah hamba bagi selainNYA. .... Camkan ini wahai anakku Pesanan yang terindah daripada salah seorang guruku yang tercinta... Semoga ALLAH merahmatinya. Semoga setiap kalam yang keluar dari bibirnya bisa dimanfaatkan olehku dan semoga aku bisa mewarisi ilmu dan akhlaknya...Allahhumma amin Solat adalah mikraj... Kaki terpacak di bumi Hati menjangkau ke langit Tenang berbicara bersama Tuhan Tuan pemilik segala wujud yang ada.... Hu ALLAH Berhenti Menjadi Gelas Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda. Sang Guru tersenyum. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru, “setelah itu kau minum airnya.”
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air masin.
“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.
“Masin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru tersenyum lagi melihat wajah muridnya yang meringis kemasinan.
“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa masin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa masin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa masin yang tersisa di mulutnya.
“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam, mendengar.
“Tapi Nak, rasa ‘masin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya qalbu yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.” 1. Rasulullah saw bersabda: "Mudahkanlah jangan kalian mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat lari", berkata ra: tunjukanlah mereka kepada Allah dan jangan tunjukan kepada selain-NYA, karena orang yang menunjukanmu kepada dunia berarti ia telah menipumu, orang yang menunjukanmu kepada amal berarti ia membuatmu letih, dan orang yang menunjukanmu kepada Allah berarti ia telah menasehatimu dengan baik.
2. Jauhilah kebaikan orang lebih daripada menjauhi keburukannya, karena kebaikannya mengenai hatimu, sedang keburukannya hanya menimpa tubuhmu, dan sungguh Sesuatu yang menimpa ke atas tubuhmu itu lebih baik daripada menimpa ke dalam hatimu, dan sungguh seorang musuh yang dapat mengantarmu kepada Allah itu lebih baik daripada kekasih yang mejauhkanmu dari Tuhanmu. 3. Janganlah engkau mendatangi (suatu tempat) melainkan untuk mendapatkan pahala Allah; Janganlah engkau hadir melainkan engkau aman dari maksiat kepada Allah; Janganlah berteman kecuali dengan orang yang dapat membantumu taat kepada Allah; dan Janganlah memilih sahabat dekat kecuali kepada orang yang dapat menambah keyakinanmu, sedang mereka itu sedikit. 4. Jangan engkau bersahabat dengan orang yang mementingkan diri sendiri, karena ia seorang pembosan; dan juga dengan orang yang mengutamakanmu atas dirinya, itupun tak abadi. Bersahabatlah dengan orang yang jika ia menyebut, menyebut Allah, karena Allah akan mencukupinya ketika ia telah musyahadah, dan menggantinya ketika kehilanggan (sahabat), karena Dzikir Allah itu cahaya hati, dan musyahadah adalah kunci hal-hal yang gaib.
5. Nabi SAW bersabda: Munajat dapat menjaga berbagai rahasia; sodaqah menjaga harta-harta; ikhlas menjaga amal-amal; jujur menjaga perkataan; dan musyawarah menjaga berbagai pendapat.
6. Hatim al-'Asham ra berkata: Tergesa-gesa itu dari syaitan kecuali dalam 5 tempat adalah merupakan sunnah RAsulullah SAW: Menjamu tamu jika telah datang; menyipakan mayit jika telah mati; menikahkan anak perempuan jika sudah balig; membayar hutang jika tiba waktunya; dan bertaubat dari dosa jika melakukan dosa.
7. Sofyan Atsauri ra berkata: Orang-orang faqir telah memilih 5 hal: Ketentraman jiwa; kelapangan hati; Menyembah Tuhan; entengnya hisab, derajat yang luhur. Sedang orang-orang kaya pun memilih 5 hl: Keletihan jiwa, kesibukan hati, menyembah dunia; beratnya hisab; derajat rendah. .
8. Seorang Sufi berkata: Di hadapan ketaqwaan terdapat 5 tantanan/hambatan, barangsiapa dapat melampauinya maka ia betul-betul mendapatkan ketaqwaan: 1. Memlih kesusahan daripada kenikmatan, 2. memlihi kerja keras dari pada kerehatan, 3. memilih rendah diri daripada kemuliaan, 4. memilih diam daripada bicara berlebihan, 5. memilih mati daripada hidup.
9. Jumhur Ulama berpendapat: Bahwa berpikir itu terhadap 5 sisi: 1. Berpikir kepada ayat-ayat Allah akan melahirkan tauhid dan keyaqinana, 2. berpikir ttg nikmat-nikmat Allah akan melahirkan mahabbah, 3. berpikir ttg janji Allah akan melahirkan suka cita, 4. berpikir ancaman Allah aka melahirkan ketakutan, 5. berpikir ttg kurangnya diri dalam taat di samping sejumlah kebaikan Allah kepadanya maka akan melahirkan rasa malu kepadaNYA.
25. Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang merendahkan 5 hal maka rugi 5 perkara: Barangsiapa yang merendahkan ulama maka merugi agamanya; barangsiapa yang meremehkan penguasa maka akan rugi dunianya; barangsiapa merendahkan tetangga maka akan rugi kemanfaatannya; dan barangsiapa yang merendahkan kerabatnya maka akan merugi jalinan kasih sayangnya; barangsiapa merendahkan keluarganya maka akan merugi keenakan hidupnya.
26. Nabi SAW bersabda: Akan datang suatu masa atas umatku mereka mencintai 5 perkara dan melupakan 5 perkara: mereka mencintai dunia dan melupakan akherat; mereka mencintai kemegahan rumahnya dan melupakan kuburan; mereka mencintai harta dan melupakan hari perhitungan; mereka mencintai isteri dan melupakan bidadari surga; dan mencintai nafsu dan melupakan Allah. Mereka terlepas dariku dan akupun terlepas dari mereka.
27. Nabi Saw bersabda: Allah tidak akan memberi kpd seorang 5 perkara melainkan telah disipakan utknya 5 hal lain: Allah tidak akan memberikan syukur melainkan Allah telah menyiapkan tambahan untuknya; Allah tidaklah memberikan do'a melainkan telah menyiapkan istijabah (pengkabulan); memberikan istigfar melainkan menyiapkan pengampunan; tidaklah Allah memberikan taubat melainkan telah menyiapkan qabul (penerimaan taubat); dan tidaklah Allah memberikan sodaqah melainkan telah menyiapkan utknya penerimaan. 28. Usman bin Affan ra berkata: Ada lima ciri orang bertaqwa: 1. seorang yang hanya bergaul dengan orang dapat memperbaiki agamanya, 2. Orang yang mampu mengalahkan kemaluan dan lisan, 2. seorang yang jika diberikan sesuatu yang besar dari dunia maka ia melihatnya sebagai sebuah musibah, 3. seorang yang jika diberikan sesuatu yg sedikit dari agama maka ia segera mengambil kesempatan utk mendapatkannya, 4. seorang yang tidak mengisi banyak-banyak perutnya dengan yang halal karena takut bercampur dengan yang haram, 5. seorang yang memandang semua orang selamat sedang melihat diri sendiri rasa celaka. 29. Umar ra berkata: Andaikan tidak ada para pengaku niscaya aku menyaksikan lima golongan bahwa mereka adalah penghuni surga, 1. Orang faqir yang banyak anaknya; 2. isteri yang ridla kepada suaminya; 3. isteri yang mnyedekahkan maharnya kepada suaminya; 4. anak yang mendapat ridla orgtuanya; 5. orang yang bertaubat dari segala dosa-dosanya. 30. Abu Bakar ra berkata: Kezaliman itu lima perkara dan bentengnya juga lima: Cinta dunia itu zalim dan bentengnya taqwa; dosa itu kezaliman dan bentengnya itu taubat; qubur itu juga zalim (gelap) bentengnya kalimat La ilaha illallah Mohamad RAsulullah; Akherat juga zalim bentengnya amal saleh; jembatan sirat almustaqim itu zalim bentengnya keyaqinan.
1. Hidup ini adalah ibadah, jihad dan dakwah. maka jika betul demikian, tidak ada yang membuat dia menderita selama dia hidup di dunia hingga akherat nanti.
2. Umar bin Abdel Aziz ra berkata ttg qadla dan qadar: Tidak ada kebahagiaan bagiku kecuali pada taqdir Allah yang menyapaku. 3. Seorang yang bijak dan berakal tidak terlepas dalam kehidupan dari 4 waktu: Waktu untuk bermunajat kepada Allah, waktu untuk menghisab (introspeksi) diri sendiri, waktu untuk menemui saudaranya yang dapat menunjukan aib-aibnya, dan waktu yang dapat melepaskan dirinya dengan kelezatan yang halal 4. Orang bijak berkata: Semua Ibadah terhimpun dalam 4 perkara: Memenuhi janji, Menjaga hudud (batas2 syari'ah), Sabar terhadap yang tiada, dan ridha kpd yang ada 5. Allah..Allah, dan kepada Manusia, sucikan lisanmu dari menyebut-nyebut mereka, dan hatimu dari cenderung kepadanya. Katakanlah: Ya Allah Rahmatilah hamba daripada mengingat mereka, selamatkanlah dari keburukan-nya, cukupkan dengan kebaikan-MU dari pada kebaikannya, dukunglah hamba dengan penanganan khusus di antara mereka. Sesungguhnya atas segala sesuatu ENGKAU Maha Kuasa
6. Jauhilah kebaikan orang lebih daripada menjauhi keburukannya, karena kebaikannya mengenai hatimu, sedang keburukannya hanya menimpa tubuhmu, dan sungguh Sesuatu yang menimpa ke atas tubuhmu itu lebih baik daripada menimpa ke dalam hatimu, dan sungguh seorang musuh yang dapat mengantarmu kepada Allah itu lebih baik daripada kekasih yang mejauhkanmu dari Tuhanmu. 7. PERHATIKAN!!!! Aku telah mencari 4 perkara pada 4 hal, maka aku salah menempuh jalannya, kemudian aku mendapatkannya pada 4 yang lain: Aku mencari kekayaan pada harta maka aku dapatkan pada sifat qana'ah; Aku telah mencari kerehatan (ketentraman dan kenyamanan) pada banyaknya harta ternyata aku dapatakannya pada sedikitnya harta; Aku telah mencari kelezatan dalam kenikmatan aka aku dapatkannya di dalam badan yang sehat, dan Aku telah mencari rizki di bumi ternyata aku telah dapatkannya di langit. 8. Ali ra berkata: Agama dan dunia ini akan selalu tegak keduanya selama masih ada empat perkara: Selama orang-orang kaya tidak pelit terhadap apa yang menjadi amanat mereka, selama para ulama mengamalkan apa yang mereka ketahui, selama orang-orang bodoh tidak sombong terhadap apa yang tidak diketahui, dan selama orang-orang faqir tidak menjual akherat mereka utk dunia mereka. 9. Tanda-tanda kebahagiaan juga ada empat: 1. Mengingat dosa-dosa (utk selalu dijauhkan), 2. Melupakan kebaikan (agar memacu berbuat selalu), 3. Melihat ke atas dalam urusan agama (agar terus dapat belajar) dan 4. Melihat ke bawah dalam urusan dunia (agar ia dapat mensyukuri). 10. Rasulullah saw bersbda: Tanda-tanda penderitaan ada empat: 1. Melupakan dosa-dosa masa lalu (tdk ditaubati) padahal dosa itu dicatat di sisi Allah, 2. mengingta kebaikan-kebaikan lalu pedahal ia tdk tahu apakah di terima atau ditolak di sisi Allah, 3. Melihat ke atas dalam urusan dunia, dan 4. Melihat ke bawah dalam urusan agama, sehingga Allah berfirman (Qudsi) AKU menginginkannya dan dia tidak menginginiKU maka AKU biarkan dia... 11. Ali bin Abu Thalib berkata: Amal yang paling sulit itu ada empat perkara: 1. Memaafkan ketika dalam keadaan marah, 2. dermawan dalam keadaan sulit, 2. Iffah (menjaga kesucian diri) ketika berdua dengan maksiat, dan 4. berkata hak kepada orang yang ditakuti atau di harapkan kebaikanya. 12. Ali bin Abu Thalib ra berkata: Empat hal sedikitnya terasa banyak: Rasa sakit, faqir, api dan permusuhan. 13. Nabi SAW bersabda: Segala Induk itu ada empat: Induk Obat adalah sedikit makan; Induk etika adalah sedikit bicara (kecuali kebaikan), Induk ibadah adalah sedikitnya dosa; dan Induk harapan adalah sabar. 14. Orang bijak berkata: Simbol-simbol keimanan ada 4 : Taqwa, Malu, Syukur dan Sabar 15. Ali bin Abi Thalib ra berkata: Barangsiapa yang merindukan surga maka ia bersegara berbuat kebaikan, barangsiapa yang takut neraka ia akan mencegah dorongan syahwat, barangsiapa yang yakin dengan kematian ia akan hilang rasa kenyamanan, dan barangsiapa yang telah memahami dunia maka akan tidak terasa segala musibah yang menimpanya. 16. Orang sufi berkata: Barangsiapa yg sibuk dengan syahwat maka tidak terlepas dari perempuan (lawan jenis); barangsiapa yang sibuk mengumpulkan harta maka tidak terlepas dari yang haram, barangsiapa yg sibuk dengan memberi manfaat untuk orang-orang muslim maka senantiasa harus menyesuaikan kondisi mereka, dan barangsiapa yang sibuk dengan ibadah maka tidak boleh terlepas dari ilmu. 17. Sebagian ulama ketika ditanyakan Apa kabarmu? jawabnya: Aku bersama Tuhan dengan cara muwafaqah (mencintai apa yg dicintai Allah dan membenci apa yg dibenci-NYA); bersama nafsu dengan mukhalafah (melakukan perlawanan); bersama sesama manusia dengan saling menasehati; dan bersama dunia dengan cara dlarurat (kondisi terpaksa mencarinya). 18. Imam Hatim al-Asham ra. berkata: Ada 4 perkara yang nilainya hanya diketahui oleh 4 juga: Masa muda hanya diketahui nilainya oleh orang tua, Keafiatan hanya diketahui nilanya oleh orang yang tertimpa musibah, kesehatan hanya diketahui nilainya oleh orang sakit, dan hidup hanya diketahui nilainya oleh orang mati. 19. Ada 4 esensi dalam tubuh manusia yang dapat dihilangkan oleh 4 hal: 4 esensi itu antara lain: Aqal, agama, sifat malu, dan amal saleh. kemudian Marah dapat menghilangkan aqal; hasud dapat menghilangkan agama, sifat tamak dapat menghilangkan sifat malu; dan gibah dapat menghilangkan amal saleh. 20. Sa'ad bin Bilal ra berkata: Sesunguhnya seorang hamba apabila ia telah berbuat dosa Allah telah mengkarunia empat perkara: Tidak ditutup dari_NYA pintu rizqi; tidak ditutup kesehatannya; tidak dibeberkan dosa-dosanya dan tidak segera disiksa langsung. 21. Nabi SAW bersabda: Sesunnguhnya Allah berhujjah di hari qiamat dengan 4 orang untuk empat macam manusia: Terhadap orang-orang kaya dengan Sulaeman bin Daud; terhadap hamba sahaya dengan Nabi Yusuf; terhadap yang sakit dengan Nabi Ayyub dan terhadap orang-orang faqir dengan Nabi Isa as. 22. Seorang bijak telah memilih 4 hikmah dari 4 kitab suci: 1. Dari Taurat: Barangsiapa yang ridla dengan pemberian Allah maka ia akan tentram/senang dunia dan akherat. 2. Dari injil: Barangsiapa yang telah menghancurkan syahwat maka ia akan mullia di dunia dan akherat, 3. Dari Zabur: Barangsiapa yang bersikap sendiri dari semua orang ia akan selamat di dunia dan ekherat, 4. Dari Alqur'an:Barangsiapa yang dapat menjaga lisan maka ia akan selamat di dunia dan akherat. 23. Umar bin Khaththab ra berkata: Demi Allah, tidak lah aku ditimpakan bala ujian melainkan Allah memberikan empat nikmat kepadaku: 1. Jika tidka menimpa agamaku, 2. jika tidak lebih besar daripada yang menimpaku (masih ada musibah lain yang lbh besar), 3. jika masih diberikan rasa ridla kepada musibah itu, 4. Aku mengharap pahala atas musibah tersebut. 24. Barangsiapa yang dianggap tidak patut berkhidmat (menjadi hambaNYA) kepada Allah, maka akan Allah sibukkan (hatinya) dengan dunia (menjadi hamba selain Allah). Abu Muhammad.
Kehadiran Hati dalam Kebersamaan dengan Ilahi s.w.t. Sheikhuna (guru kami), Sheikh Yusuf Al-Hasani pernah berkata: “Garis pemisah yang membezakan antara zikir dan kelalaian ialah: kehadiran hati bersama Allah s.w.t. (hudur ma’a Allah).” Sesungguhnya, rasa zikir itu sendiri ialah, mengingati Allah s.w.t.. Ia bermula dengan zikir lisan (menyebut nama Allah s.w.t. dengan lidah), seterusnya zikir hati (kehadiran hati bersama Allah s.w.t.) dan seterusnya zikir sirr (bersama dalam musyahadah Allah s.w.t. dan kebersamaanNya setelah fana). Imam Ibn ‘Atho’illah As-Sakandari r.a. berkata: “Kamu zikir dengan lisan tanpa kehadiran hati bersama Allah s.w.t. itu lebih baik daripada kamu meninggalkan zikir sama sekali. Boleh jadi, dengan zikir lisan tanpa kehadiran hati tersebut, akan membawa kepada zikir dengan kehadiran hati setelah itu.” Seseorang yang sudah merasai kelazatan zikir (mengingati Allah s.w.t.) dalam muroqobah (kewaspadaan hati terhadap pandangan Allah s.w.t. kepadanya), akan sentiasa ingat kepadaNya walaupun tanpa lidah yang menyebut namaNya. Ini merupakan suatu zikir zauqi (dalam bentuk perasaan) di mana seseorang itu rasa diawasi oleh Allah s.w.t.. Inilah yang dipanggil dengan kehadiran hati bersama Allah s.w.t.. Ia merupakan natijah daripada perpindahan ism (nama Allah s.w.t.) ke dalam hati seterusnya diterjemahkan dalam bentuk kebersamaan denganNya secara “muroqobah” (kewaspadaan). Pada tahap ini, akal memainkan peranan yang penting dalam menjaga kebersamaan dalam muroqobah tersebut. Hati pula memainkan peranan dalam menyebut namaNya secara sirr (dari sudut hati) dan lidah pula, digunakan untuk menguatkan rasa kebersamaanNya tersebut, takkala menyebut namanya. Kehidupan ini antara kelalaian dan kehadiran hati bersamaNya. Setiap kelalaian akan menjauhkan kita daripada Allah s.w.t. dan setiap kehadiran hati akan menghampirkan kita kepadaNya. Ketenangan hati, kebahagiaan hidup dan kelapangan jiwa hanyalah ada pada seseorang yang sentiasa dalam kebersamaanNya, samada dengan muroqobah (kewaspadaan terhadap pandangan Allah s.w.t. terhadap dirinya) ataupun dengan musyahadah (menyaksikan Allah s.w.t. dalam kebersamaanNya) yang merupakan kemuncak kebersamaan denganNya. Allah s.w.t. berfirman: “…Sesungguhnya dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang”. Ingat itu tempatnya ialah dalam pemikiran dan hati. Lisan sebagai pembantu agar membentuk ingatan kepadaNya di dalam akal dan seterusnya di dalam hati. Apa yang penting, sentiasalah menghampirkan diri denganNya dalam rangka mengingatiNya. Lakukanlah ketaatan dengan penuh kejujuran dan keikhlasan kepadaNya, kerana ikhlas merupakan jambatan utama dalam membentuk hubungan kebersamaan denganNya. Ramai orang beramal, tetapi tanpa ikhlasan, sehingga amal tersebut tidak mampu membuatkannya lebih menghampiri Allah s.w.t., bahkan menjauhkannya daripadaNya. Ini kerana, dia beramal kerana ianya sudah menjadi kebiasaan baginya. Maka, ibadat itu baginya sekadar adat. Apabila sedemikian, maka kelazatan dalam beribadah tidak dirasai, kerana ibadah yang dilakukan pada hakikatnya, bukan untuk Allah s.w.t., tetapi untuk dirinya sendiri, samada untuk melegakan hati takkala merasa diri tidak membuat kewajiban, tetapi bukan menumpukan amalan kepada Allah s.w.t., yang menjadi matlamat ibadah dan seluruh kehidupannya. Jadi, apabila ibadahnya terbantut kepada “adat” semata-mata, ia semakin mengkaburi hakikat kawujudan dirinya. Walaupun dari sudut syariat, dia sudah menunaikan ketaatan, tetapi rahsia syariat, iaitu kelazatan dalam ketaatan, tidak dikecapinya kerana syariat itu dilakukan sebagai adat. Jadi, ikhlaslah dan jujurlah dalam beribadah kepadaNya, semoga dengan itu, akan menjadi jambatan menuju ke kebersamaanNya dengan bantuanNya. Seseorang yang ingin mengingati seseorang atau sesiapa sahaja, pasti dia akan selalu bertemu dan berbicara dengannya. Jadi, sesiapa yang ingin terus mengingati Allah s.w.t., maka hendaklah dia selalu bertemuNya dalam solat, dan selalu mendengar bicaraNya daripada firman-firmanNya yang kita baca. Bacalah Al-Qur’an selalu, dengan niat untuk mendengar apa yang Allah s.w.t. ingin sampaikan atau bicarakan kepada kita setiap hari. Dengan niat tersebut, bukalah lembaran Al-Qur’an dan bacalah di mana sahaja lembaran yang dirasakan kuat keinginan untuk membacanya. Pada ketika itu, dengan niat sebegitu, insya Allah, lafaz-lafaz Al-Qur’an yang kita baca, menjadi permulaan bagi interaksi antara kita dengan Allah s.w.t.. Akhirnya, Allah s.w.t.-jika Dia kehendaki- akan mencampakkan perasaan atau zauq yang lebih mendalam, terhadap kefahaman ayat-ayat yang dibaca, seolah-olah ayat-ayat tersebut ditujukan khas untuk kita yang membaca. Dengan hal sedemikian, seseorang dapat menguatkan lagi ikatan hubungan kehambaanNya. Lakukan ketaatan dengan penuh rasa diperhatikanNya, keranaNya, nescaya, pada ketika itu, akan bertambah kuat rasa kerinduan untuk bertemu denganNya dalam kebersamaanNya. Jadikan amalan itu kehambaan kita kepadaNya, bukan sebagai pembina status diri dalam pandangan diri sendiri (contoh, solat banyak untuk rasa diri telahpun solat banyak. Bila baca Al-Qur’an, untuk rasa diri baik kerana baca Al-Qur’an dan sebagainya). Lakukanlah segalanya kerana Allah s.w.t. dan untukNya, nescaya akan terbit kehadiran hati bersamaNya. Itulah hakikat zikir dalam kehidupan seseorang hamba, kepada Tuhannya. Wallahu a’lam… Ditulis dengan bantuan Allah s.w.t. oleh: Al-Haqir ila Rabbihi Al-‘Aliy Al-Qodir Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Bismillah...Alhamdulillah...Selawat dan Salam buat Rasulillah s.a.w...
Telah berkata para arif billah: "kenal diri, maka kamu akan kenal Tuhan"
Maknanya secara ringkas, kenallah hakikat diri, iaitu hamba Allah s.w.t., maka akan kenallah Allah s.w.t. sebagai Tuhan kita.
Sesiapa yang kenal kehambaan diri (Ubudiyah) dan merealisasikannya dalam bentuk Ibadah (ketaatan), maka dia akan mengenali bahawa, dia mempunyai Tuhan yang perlu ditaati dan disembah dan, dari-Nya wujudnya dirinya dan kepada-Nya jua kembalinya dirinya.
Semakin meningkat pengenalan kita tentang hakikat diri (UBUDIYAH), semakin meningkat pengenalan kita tentang Allah s.w.t. (RUBUBIYAH dan ULUHIYAH-Nya), dan tiada penghujungnya peningkatan makrifat tersebut. Ciri-ciri orang yang kenal hakikat kehambaan diri:
Rendah diri
Sentiasa menyalahkan diri dari maksiat yang dilakukan
Sentiasa mensyukuri nikmat yang diberi oleh Allah s.w.t. kepadanya
Sentiasa merasakan bahawa, semua kebaikan seperti ketaatan, ibadah dan amalan soleh yang dilakukan merupakan suatu kurniaan dari Allah s.w.t., dan kita hanyalah dipilih oleh Allah s.w.t. untuk diberi nikmat ketaatan tersebut
Merasakan diri sendiri sebenarnya tidak layak untuk mengemis cinta Allah s.w.t. kerana kehinaan diri di hadrah Ilahi s.w.t., tetapi terpaksa mengemis kasih dari-Nya kerana memerlukan cinta Allah s.w.t..
Merasakan bahawa, diri sendiri sentiasa dalam pentadbiran Allah s.w.t., dan tidak sibuk bergantung dengan asbab. Jika Allah s.w.t. menjadikannya di kalangan ahli asbab sekalipun, dia mengambil asbab tersebut kerana ianya merupakan perintah dari Allah s.w.t. (takkala memilihnya sebagai ahli asbab), namun tidak sedikitpun merasakan bahawa, dia memerlukan kepada asbab, kerana dia hanya memerlukan Allah s.w.t.
Sentiasa merasa takut kepada Allah s.w.t. dari kemurkaan-Nya.
dan sebagainya...
Makrifatu An-Nafs merupakan zauq (persaaan) dalam diri yang pelbagai, dan tiada penghujungya, setiap kali Allah s.w.t. menyingkap hijab-hijab dari diri dan menzahirkan hakikat diri kepada diri sendiri.
Takkala itu, terbitlah makrifatullah sejajar dengan makrifatunnafs.
Takkala mengenal diri begitu hina, maka hanya Allah s.w.t.lah yang Maha Mulia
Takkala mengenali diri begitu kerdil, maka pada ketika itu, kenallah bahawa hanya Allah s.w.t. yang Maha Berkuasa.
Takkala mengenali diri sebagai hamba, maka kenallah bahawa hanya Allah s.w.t. sebagai Tuhan yang layak ditaati secara mutlak tanpa penyekutuan.
Takkala mengenali diri amat berhajat kepada pergantungan dalam menempuh kehidupan dunia ini, maka ketika itulah, kita mengenali Allah s.w.t. sebagai tempat pergantungan segala sesuatu.
Diri sendiri ialah tempat tajalli af'al (perbuatan) Allah s.w.t., dari sifat Allah s.w.t..
Oleh itu, Nama-nama Allah s.w.t. mewakili sifat-sifat-Nya. Sedangkan sifat-sifat Allah s.w.t. dikenali dengan af'al-Nya dan af'al-Nya dikenali dengan penyingkapan hakikat diri.
Semakin terbuka hakikat diri dalam diri kepada diri, semakin jelas makrifatullah dalam diri, kerana diri pada hakikatnya ialah makhluk DIA, kerana ia (diri) dari DIA. Setiap dari Dia ialah kepunyaan-Nya. Mana milik kita?
Kata sya'ir sufi yang masyhur:
di manakah kamu,takkala dibanding dengan kecantikan-Nya, demi Allah, tidaklah kamu melainkan Dia juga...
Adapun ahli fana' yang lemas dalam musyahadatullah dalam lautan Ahadiah yang tiada bertepi, merupakan golongan yang telah terealisasinya makna Ubudiyah dalam diri takkala zahirlah dari itu, Rububiyah Allah s.w.t. sehingga lenyaplah syuhud Ubudiyah dalam Musyahadah Rububiyah sehingga timbullah zauq yang pelbagai.
Jika zauq-zauq tersebut diungkapkan, maka, ianya akan menimbulkan fitnah seperti perkataan "Ana Al-Haq" (Sayalah Tuhan yang Maha Benar). Oleh itu, zauq-zauq ini merupakan sir-sir antara hamba dengan Allah s.w.t.
Lebih dari ini, tidak dibenarkan untuk dibahaskan di perbahasan awam. Ilmu ini ialah ilmu zauqi, tidak dipindahkan melainkan dari lisan Sheikh kepada muridnya yang dipilih. Jadi, rujuklah kepada mursyid masing-masing untuk lebih jelas, insya Allah...
Wallahu a'lam...
Nukilan Al fadhil Ustaz Mukhlis @ Al Faqir101 As-Sheikh Abu Al Hasan As-Syazuli r.a (593H-656H/1197-1258M) Nama dan Nasab Nama beliau ialah Ali ibn Abdullah ibn Abdul Jabbar ibn Tamim ibn Hurmuz ibn Hatim ibn Qusoyy ibn Yusuf ibn Yusya’ ibn Warad ibn Battol ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Isa ibn Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ali ibn Abi Talib r.a.. Gelaran beliau: Taqiyyudin Abu Al-Hasan As-syazuli (dalam satu riwayat As-Syazili) Tarikh dan Tempat Lahir: Beliau dilahirkan pada tahun 593 Hijrah bersamaan 1197 Masihi di sebuah kampung bernama Ghumarah, berdekatan dengan bandar Sabtah, Moroko. Riwayat Ringkas Tentang Kehidupan: Semasa tinggal di Ghumarah, Abu Al-Hasan belajar menghafaz Al-Qur’an, ilmu-ilmu asas agama, ilmu sunnah nabawiyah dan sebagainya di bawah tarbiah dan ta’lim ulama’-ulama’ besar di zaman beliau. Setelah itu beliau bermusafir ke kampung Fas untuk bertemu dengan seorang Sheikh sufi iaitu, As-Sheikh Abdullah bin Abil Hasan ibn Harazim (murid As-Sheikh Abu Madyan r.a.) dan memakai khirqah sufi daripada beliau. Kemudian, beliau menuju ke Zawilah dan kemudiannya ke bandar Tunisia. Di sana, beliau mempelajari ilmu-ilmu agama secara mendalam daripada ulama’-ulama’ besar di sana. Beliau bermazhab Maliki dalam fiqh Islami. Di sana juga, beliau sempat berkumpul dengan para sufi yang merupakan anak-anak murid kepada Abul Madyan r.a., dan seterusnya terkesan dan tertarik dengan metodologi tarbiah sufiyah mereka. Setelah itu, beliau bermusafir ke Iraq dan bertemu dengan As-Sheikh Abu Al-Fath Al-Wasiti r.a., yang merupakan khalifah bagi Sidi Ahmad Ar-Rifa’i r.a.. Beliau mengambil bai’ah daripada As-Sheikh Abu Al-Fath r.a. dan sering mengikuti perhimpunan mereka. Imam Abu Al-Hasan r.a. sering berbincang dengan As-Sheikh Abu Al-Fath r.a. dan kadangkala beliau (Abu Al-Hasan r.a.) bertanyakan tentang wali qutub di zaman tersebut. As-Sheikh Abu Al-Fath Al-Wasiti r.a. berkata kepada beliau:” Kamu merantau dari Moroko menuju ke mari (Iraq) sedangkan wali qutub berada di tempatmu (Moroko).” Seterusnya beliau pulang ke Moroko semula untuk mencari wali qutub yang dimaksudkan tersebut. Akhirnya beliau bertemu dengan wali qutub yang dimaksudkan iaitu As-Sheikh Al-Kabir Al-Wali Al-Qutub Abu Muhammad Abdul Salam ibn Masyish r.a.. Pertemuan pertama beliau dengan wali qutub Ibn Masyish r.a. ialah di atas sebuah bukit, takkala Ibn Masyish r.a. sedang bersendirian beribadah secara khusyuk di hadapan ALLAH s.w.t.. Setelah tamat perguruan dengan Ibn Masyish r.a. beliau disuruh untuk berdakwah di Afrika. Akhirnya, beliau bermusafir ke Afrika, dan tinggal di wilayah Syazulah yang mana kepada nama wilayah tersebutlah, Imam Abu Al-Hasan As-Syazuli r.a. dinisbahkan. Setelah itu, beliau tinggal di atas bukit bernama Za’wan. Setelah itu pula, beliau bermusafir ke Tunisia dan nama beliau mahsyur di sana. Namun, ada individu yang dengki dengan beliau lantas menyebarkan fitnah terhadap Imam As-Syazuli r.a.. Imam As-Syazuli r.a. seterusnya memulakan perjalanan untuk mengerjakan haji di Makkah, dan setelkah itu menetap di Mesir selama 35 tahun. Diriwayatkan juga bahawa, Imam Abu Al-Hasan As-Syazuli r.a. turut serta dalam peperangan di Mansurah, Mesir, takkala berlangsung perperangan antara tentera islam dengan tentera erancis di bawah pimpinan Raja Luis ke-9 (raja Perancis). Kewafatannya: Pada tahun 656 Hijarah (bersamaan 1258 Masihi), beliau sekali lagi ingin bermusafir untuk mengerjakan haji. Namun, dalam perjalanan, dengan ditemani oleh khalifah beliau Abu Al-Abbas Al-Mursi r.a., beliau akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di tengah padang pasir ‘aizab di Humaisara, Mesir. Beliau meninggal dunia pada usia 63 tahun. Setelah itu, khalifah beliau, Al-Imam Abu Al-Abbas Al-Mursi r.a. (yang juga merupakan menantu kepada Imam As-Syazuli r.a.) mengambil alih tugas memimpin anak-anak murid al-Imam as-Syazuli r.a., dan seterusnya menyebarkan manhaj tarbiah tarikat As-Syazuliah yang diberkati. Semoga ALLAH s.w.t mencurahkan keberkatan ke atas penghulu tarikat As-Syazuliah r.a., dan memanfaatkan kita dengan keberkatan dan hembusan rohani beliau, amin... Disusun oleh Al-Fadhil Ustaz Mukhlis @ Al-Faqir101 Imam As-Sya'rani r.a. dan Kejujuran dalam Tariq
Imam As-Sha'rani r.a. memang terkenal dalam dunia sufi, khususnya di Mesir. Sheikhuna Yusuf sering menceritakan tentang Imam As-Sha'rani r.a., sambil katanya, anda kenal Imam As-Sha'rani dari kebesaran namanya di alam sufi. Tetapi, kenalilah bagaimana beliau bermula, supaya kita dapat mengambil iktibar dari kegigihan beliau dalam permulaan tariq ila Allah.
Sheikhuna Sidi Yusuf Al-Hasani seterusnya menceritakan bagaimana permulaan Sidi As-Sha'rani dalam perjalanan sufi:
"Beliau pada mulanya merupakan seorang ulama' yang amat terkenal dalam keilmuannya. Namanya tersohor di kalangan para ulama' khususnya dalam ilmu rusum (ilmu-ilmu zahir seperti fiqh dan sebagainya). Beliau juga telah mengarang beratus-ratus kitab, dengan tulisan tangannya.
"Suatu ketika, beliau terdengar tentang seorang hamba Allah bernama Ali Al-Khawwas. Katanya, Ali Al-Khawwas ini mengetahui jenis ilmu yang tidak diketahui olehnya (Imam As-Sha'rani). Lalu, beliau mengorak langkah untuk mencari Ali Al-Khawwas dalam usaha untuk mengenali tentang ilmu tersebut.
"Dengan izin Allah, maka beliau bertemu dengan Ali Al-Khawwas r.a., lantas meminta supaya Ali Al-Khawwas mengajarkan kepadanya ilmu kaum sufi. Ali Al-Khawwas mengatakan: "Duhai anak, kamu pada ketika ini tidak layak untuk mempelajari ilmu kami, kerana kamu telahun terhijab dengan ilmu yang kamu miliki. Ilmu kami membawa kepada mengenal Allah s.w.t., sedangkan ilmu yang kamu miliki, menghalang kamu dari mengenal Allah s.w.t."
Kata Imam As-Sha'rani r.a.: "Duhai tuan, sudikah kiranya tuan membantuku untuk menghilangkan hijab tersebut?"
Sheikh Ali Al-Khawwas menjawab: "Kalau anak betul-betul jujur inginkan ilmu ini, maka hancurkan hijabmu dengan menjual semua kitab-kitab yang kamu miliki. Setelah itu, duit hasil jualan tersebut perlu diberi kepada faqir miskin."
Imam As-Sha'rani terkilan dengan permintaan Sheikh Ali Al-Khawwas, dan terbayang kitab-kitab hasil penat-lelahnya selama berpuluh-puluh tahun, perlu dijual serta-merta. Namun, dengan penuh kejujuran dan keikhlasan untuk menempuh jalan sufi, dalam rangka untuk mengenal Allah s.w.t., akhirnya beliau sanggup menjualkan kitab-kitab milik beliau dan seterusnya memberi sedekah kepada faqir miskin dengan duit yang didapatinya dari jualan tersebut.
Berkat kejujuran dan keikhlasan beliau, yang sanggup mengorbankan hasil usaha beliau dalam ilmu-ilmu zahir, maka Allah s.w.t., menggantikannya dengan limpahan Makrifat dan Futuhat sehingga beliau mampu mengarang lebih banyak karya dalam bidang ilmu-ilmu batin, di bawah didikan dan tarbiah dari wali Allah, Sheikh Ali Al-Khawwas r.a..
Inilah sikap kejujuran seorang murid yang sanggup berkorban dalam menghancurkan punca-punca yang menjadi sebab, terhijabnya hatinya dengan Allah s.w.t..
Semoga Allah s.w.t. membantu kita dalam berlaku jujur di dalam perjalanan menuju-Nya..Amin...
Al fadhil Ustaz Mukhlis @ Al Faqir101
Kehidupan di dunia ini merupakan suatu perjalanan. Setiap manusia yang hidup di dunia ini umpama seorang musafir yang sedang mengembara. Dia berhenti sejenak untuk berehat di bawah pohon untuk berehat sebentar sebelum meneruskan perjalannannya semula. Sebelum manusia dilahirkan di dunia ini, mereka telahpun dihidupkan buat kali pertamanya di alam rohani di mana, mereka berjanji kepada Allah s.w.t. untuk tidak menyekutukan Allah s.w.t. dalam pengabdian. Pada ketika itu, manusia terbahagi kepada dua kelompok, iaitu kelompok yang berada di sebelah kanan dan kelompok yang lain yang berada di sebelah kiri. Setelah itu Allah s.w.t. telahpun menyatakan bahawa, kelompok yang berada di sebelah kanan merupakan ahli-ahli syurga dan kelompok yang di sebelah kiri merupakan ahli-ahli neraka. Namun, Nabi Adam a.s. meminta supaya Allah s.w.t. mengambil janji dari seluruh umat manusia supaya tidak mensyirikkan Allah s.w.t., agar seluruh anak-anak Adam akan termasuk di dalam golongan ahli syurga. Maka, Allah s.w.t memperkenankan permintaan Nabi Adam a.s. lalu meminta seluruh umat manusia (yang pada ketika itu dalam keadaan roh) untuk berjanji tidak akan menyekutukan Allah s.w.t. Maka, seluruh manusia berjanji untuk tidak menyeketui Allah s.w.t. Allah s.w.t, Nabi Adam a.s. dan para malaikat menjadi saksi sumpah setia manusia kepada Allah s.w.t. tersebut. Namun, Allah s.w.t. Maha Mengetahui perihal hamba-hambanya sejak azali, di mana ada dikalangan manusia yang mengingkari janjinya kepada-Nya dengan pelbagai kedurkaan dan maksiat kepada-Nya. Ini kerana, sejuru selepas manusia lahir ke muka bumi ini, mereka terhijab daripada Allah s.w.t. dengan pelbagai hijab, khususnya dengan dunia, syaitan dan hawa nafsu. Sheikhuna Abu Muhammad Rahimuddin mengatakan bahawa, hijab yang pertama wujud bagi seseorang manusia ialah, ketika ibunya menyusukannya pada hari kelahirannya, di mana dia (si bayi tersebut) merasakan bahawa, ada satu kuasa lain yang boleh membantunya, atau ada satu makhluk lain yang berperanan dalam memberi mimun kepadanya selain dari Allah s.w.t. Maka, perjalanan awal kehidupan manusia telah banyak menyerap pelbagai anasir keduniaan sehinggalah terbina hijab-hijab duniawi antaranya dan Tuhannya. Bermula dari saat itu, jiwa manusia semakin leka dan lalai dari Allah s.w.t. dan mulai sibuk dengan keduniaan dan memenuhi tuntutan nafsu. Kelalaian tersebut akhirnya menjauhkan seseorang manusia dari Allah s.w.t. sehinggakan kebanyakkan di kalangan orang-orang Islam yang mendirikan solat sendiri, lalai dalam solatnya dan sukar untuk merasai kelazatan khusyuk, akibat hijab-hijab yang terbina di dalam hatinya yang memisahkannya dari Allah s.w.t. Kehidupan sememangnya melalaikan seseorang manusia jika dia tidak muhasabah diri dan mengingati saat-saat kematian. Oleh kerana itulah, Allah s.w.t. dan Rasul-Nya s.a.w. sentiasa memperingatkan manusia tentang perihal kematian, seperti yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sesungguhnya manusia memang tidak mampu menghalang kedatangan ajal kematian takkala ia datang. Hal ini jelas kerana, setiap hari, umur manusia semakin bertambah, dan setiap hari juga manusia semakin menghampiri saat-saat kematian. Jika seseorang tidak mampu untuk menghalang usianya daripada terus meningkat, bagaimana dia mampu untuk menghalang saat-saat kematian daripada dirinya? Kehidupan ini sememangnnya terlalu pendek dan kematian itu sangat hampir dengan seseorang manusia. Ini berdasarkan kaedah "setiap perkara yang pasti datang, merupakan sesuatu yang sangat hampir". Ini kerana, mahu tidak mahu, seseorang manusia pasti mati, seperti datuk moyang mereka yang terdahulu, yang telahpun mati meninggalkan mereka. Kematian sememangnya menyedarkan manusia dari kelalaiannya dengan dunia yang fana, seterusnya menyemai rasa untuk bersedia menghadapi saat-saat tersebut dengan amal kebajikan. Ini kerana, kematian bukanlah bererti, kehidupan seseorang manusia tersebut akan berhenti secara mutlak, tetapi kematian bererti, bermulanya sebuah kehidupan baru baginya di alam yang lain, dan kehidupan tersebut merupakan sebuah kehidupan yang abadi. Kebahagiaan atau kecelakaan seseorang di alam selepas mati tersebut, bergantung kepada amalannya sewaktu dia hidup di dunia ini. Barangsiapa yang taat kepada Allah s.w.t. di dunia, maka dia akan beroleh kebahagiaan yang hakiki di akhirat, adapun sesiapa yang ingkar dengan perintah Allah s.w.t., akan beroleh kecelakaan di akhirat kelak. Inilah FORMULA KEHIDUPAN yang telah ditetapkan oleh Allah s.w.t. Setelah kita menghayati bahwa, kehidupan ini hanyalah sementara, pasti kita tertanya-tanya akan hala tuju kita di dunia ini dan apakah yang ada di sebalik kehidupan yang sementara ini? Sesungguhya, Allah s.w.t. tidak menciptakan seseorang manusia melainkan untuk menyembah-Nya. Bahkan, seseorang manusia tidak mampu untuk menyembah Allah s.w.t. dengan sebenar-benar pengabdian melainkan dengan mengenal-Nya (dengan sebenar-benar pengenalan), bak kata pepatah: "tak kenal maka tak cinta". Adapun cinta kepada Allah s.w.t. pula, adalah kunci bagi sebuah pengabdian yang hakiki. Seseorang yang hidup di dunia ini tanpa ketaatan kepada Allah s.w.t. secara mutlak, akan merasai kesempitan hidup walaupun tinggal di mahligai yang tersergam megah. Ini kerana, rohaninya tidak mampu untuk merasai kemurkaan Allah s.w.t. terhadapnya, di saat dia merderhakai Allah s.w.t, walaupun dia tidak menyedarinya. Adapun setelah dia mati, dia akan menyesal dengan sebenar-benar penyesalan, dan pada ketika itu, tiada guna lagi sebuah penyesalan, kerana tiada lagi peluang baginya untuk memperbaiki keadaannya. Hidup ini bagai peperiksaan atau ujian dari Allah s.w.t. untuk melihat siapakah di kalangan mereka yang taat kepada-Nya dan siapa pula yang ingkar akan perintah-Nya? Saat kematian merupakan saat dimana tempoh ujian seseorang itu telahpun tamat. Pada saat itu, seseorang yang baik amalannya, maka baiklah natijahnya. Adapun mereka yang derhaka dan lalai dari menunaikan perintah Allah s.w.t. pula, akan menerima kesudahan yang penuh sengsara dan dukacita (semoga Allah s.w.t. merahmati kita dan menjadikan kita di kalangan orang-orang yang bahagia di akhirat juga). Kesimpulannya, selagi kita hidup di dunia ini, gunakanlah peluang ini sebaik-baiknya agar kita dapat menjejaki ke dalam syurga Allah s.w.t. dan di rahmati oleh-Nya. Ini kerana, hanya sesiapa yang terlepas dari siksaan api neraka dan masuk ke dalam syurga sahaja, yang akan bahagia selama-lamanya, dan merekalah golongan yang berjaya. Adapun mereka yang terhumban ke dalam neraka (Na'uzubillahi min zalik), pasti akan merasai kesengsaraan yang berlipat ganda dan tidak akan bahagia di dalamnya. Semoga Allah s.w.t. membantu kita dalam ketaatan kepada-Nya. Wallahu a'lam…. Al Fadhil Ustaz Mukhlis @ AlFaqir101 Ujian Dan Musibah : ALLAH S.W.T Mahu Berkenalan Dengan Hamba HambaNYA
Setiap manusia, pasti melalui suatu masa yang dikenali dengan MUSIBAH atau masa KESULITAN. Kehidupan seseorang manusia tidak terlepas dari kesusahan, kesulitan, musibah dan sebagainya. Kadang kala, ia menyebabkan seseorang putus-asa dan ada juga yang sampai sanggup untuk membunuh diri dan sebagainya, hasil dari kekecewaan yang menimpa mereka dari kesulitan yang dihadapi oleh mereka dalam kehidupan.
Namun, jika musibah dan kesulitan ditafsirkan dengan tafsiran yang sempurna, ianya tidak akan membuatkan seseorang putus-asa tetapi sebaliknya ia mampu memberi suatu kekuatan baru kepada seseorang, dalam menghadapi hari-hari yang mendatang.
Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud: Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: Kami beriman, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cubaan)? Dan demi sesungguhnya! Kami telah menguji orang-orang yang terdahulu daripada mereka, maka (dengan ujian yang demikian), nyata apa yang diketahui Allah tentang orang-orang yang sebenar-benarnya beriman dan nyata pula apa yang diketahuiNya tentang orang-orang yang berdusta. (Al-Ankabut: 2-3)
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, didapati bahawa, seseorang yang mengaku beriman, pasti akan diuji oleh Allah s.w.t., sehingga terbukti samada seseorang itu benar-benar beriman atau berdusta dalam mengaku beriman.
Dalam kitab-kitab hadis juga, banyak menukilkan tentang hadis-hadis yang menyebutkan tentang ujian Allah s.w.t. terhadap para hamba-Nya.
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Golongan yang paling kuat diuji dengan bala adalah golongan para Nabi, kemudian golongan yang mengikuti mereka dan seterusnya".
Rasulullah s.a.w. juga bersabda: "Sesungguhnya, jika Allah s.w.t. mencintai sesuatu kaum, maka mereka akan diuji. Andainya mereka redha dengan ujian tersebut, maka baginya keredhaan Allah s.w.t…"
Jika kita lihat dalam lipatan sejarah, kita dapati bahawa, Rasulullah s.a.w. yang merupakan manusia yang paling dikasihi Allah s.w.t. sendiri, diuji dengan pelbagai ujian, termasuklah dibaling dengan batu, dilempar dengan najis dan kotoran, dan sebagainya. Begitu juga dengan para Nabi yang lain, seperti Nabi Zakaria a.s., Nabi Yahya a.s., Nabi Ayub a.s., dan selain dari mereka.
Persoalannya, apakah rahsia di sebalik ujian-ujian Allah s.w.t. terhadap para kekasih-Nya?
Rahsia Umum di Sebalik Musibah dari Allah s.w.t.
Para sufi dan ahli makrifah telahpun menjelaskan kepada kita, hakikat sebenar di sebalik ujian-ujian dan musibah yang menimpa seseorang muslim.
Secara umumnya, Allah s.w.t. menimpakan bala dan musibah kepada seseorang kerana tiga sebab, sesuai dengan jenis orang yang ditimpa musibah tersebut.
Pertama: Andainya Allah s.w.t. menimpakan musibah dan bala kepada golongan musuh Allah s.w.t., dan golongan yang bersikap sombong dengan Allah s.w.t., dari kalangan orang-orang kafir dan golongan fasiq, maka ia merupakan suatu bentuk azab dan siksaan dari Allah s.w.t. yang dikenakan kepada mereka di dunia lagi.
Kedua: Andainya Allah s.w.t. menurunkan musibah kepada orang-orang mu'min yang kurang beradab di hadapan Allah s.w.t., dengan melakukan pelbagai maksiat, maka ia merupakan peringatan buat mereka supaya mereka kembali kepada Allah s.w.t., dan kembali beradab di hadrat Ilahi s.w.t. dengan mengamalkan segala suruhan dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ia merupakan suatu kenikmatan dalam kesulitan.
Ketiga: Andainya Allah s.w.t. memberi musibah kepada golongan khawas (orang-orang soleh) atau golongan khawasul-khawas di kalangan hamba-Nya, yang sentiasa menjaga adab dengan Allah s.w.t., maka musibah tersebut merupakan pintu-pintu untuk meningkatkan darjat mereka di sisi Allah s.w.t., dengan kesabaran mereka.
Ujian dan Musibah dalam Kaca Mata Sufi
Adapun para sufi menegaskan bahawa, ujian dan musibah merupakan suatu "ta'aruf" atau perkenalan dari Allah s.w.t., di mana setiap kali Allah s.w.t. menguji seseorang hamba tersebut, bererti Dia memperkenalkan diri-Nya kepada para hamba-Nya disamping menilai bagaimana hamba tersebut memperkenalkan dirinya kepada-Nya.
Ujian dari Allah s.w.t. ada dua jenis iaitu:
Pertama: Ujian berbentuk Musibah. Ujian ini merupakan suatu bentuk kesusahan yang ditimpakan ke atas manusia seperti kematian, kehilangan, kemiskinan, kesakitan dan sebagianya.
Dalam bentuk ujian ini, Allah s.w.t. memperkenalkan diri-Nya dengan sifat-sifat jalal-Nya (sifat-sifat keagungan-Nya) di mana pada ketika itu, hamba-hamba-Nya akan mendapati bahawa, Allah s.w.t. Maha Berkuasa dan hanya kepada Allahlah, tempat mengadu segala masalah, kerana hanya Dialah yang Maha Membantu dan sebaik-baik Penolong.
Dalam kondisi ini, seseorang hamba yang jujur dalam Ubudiyahnya (pengabdiannya) akan memperkenalkan dirinya kepada Allah s.w.t., sebagai seorang hamba-Nya yang sabar. Maka, ketika diuji dengan musibah, seseorang hamba dapat meningkatkan darjatnya di sisi Allah s.w.t. dengan kesabarannya, di mana setiap kali dia sabar dalam ujian, maka setingkat demi setingkat darjatnya semakin meningkat di sisi Allah s.w.t., di samping mendapat keredhaan Allah s.w.t. dengan izin-Nya..
Di samping itu juga, seseorang hamba yang diuji dengan musibah, perlu redho dengan setiap suratan dan ketentuan Allah s.w.t., yang menimpanya, dan sebagai balasan, Allah s.w.t. juga akan meredhai hamba-Nya yang redha dengan ketetapan-Nya, dengan izin Allah s.w.t..
Hamba yang diuji dengan musibah juga perlulah sentiasa merenung diri sendiri, dan bermuhasabah, kerana boleh jadi, musibah tersebut merupakan natijah dari dosa-dosa dan maksiat yang dikerjakannya, di samping bertaubat dari sebarang kesilapan dan dosa. Inilah adab seseorang hamba yang sentiasa merendahkan dirinya di hadapan Allah s.w.t.
Kedua: Ujian berbentuk Kesenangan. Allah s.w.t. juga turut menguji para hamba-Nya dengan nikmat kesenangan, seperti kekayaan, banyak zuriat, kedudukan, dan sebagainya.
Dalam ujian berbentuk kesenangan tersebut, Allah s.w.t. memperkenalkan diri-Nya kepada hama-hamba-Nya yang mendapat kesenangan tersebut, dengan sifat-sifat Jamal-Nya (sifat-sifat kecantikkan dan keindahan-Nya), di mana hamba-hamba-Nya akan dapati pada kondisi tersebut, bahawa mereka mempunyai Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
Adapun hamba-hamba yang menerima kesenangan pula, hendaklah baginya memperkenalkan diri mereka sebagai hamba-hamba yang bersyukur, kerana dalam keadaan kesenangan, kesyukuran merupakan pintu-pintu untuk meningkatkan darjatnya di sisi Allah s.w.t.. Mereka hendaklah sentiasa mengingati bahawa, setiap nikmat tersebut datang dari Allah s.w.t., dan tidak lupa diri, dengan menyangka bahawa, merekalah sebenarnya yang menyebabkan kesenangan tersebut, kerana ia merupakan sikap biadab di hadapan Allah s.w.t.
Hamba-hamba yang dianugerahkan nikmat hendaklah berterima kasih kepada Allah s.w.t., di samping tidak merasa bangga dengan apa yang diterimanya. Mereka juga perlulah mengingatkan diri mereka, bahawa, boleh jadi nikmat yang Allah s.w.t. berikan kepada mereka merupakan suatu istidraj (tipu daya yang menyebabkan seseorang lebih jauh dari Allah s.w.t.) supaya mereka sentiasa meminta ampun dari Allah s.w.t. dan bersikap merendah diri di hadapan Allah s.w.t.
Apabila seseorang hamba itu berterima kasih, maka Allah s.w.t. akan meningkatkan darjat dan kedudukannya di sisi-Nya, di samping menambahkan lagi kenikmatan-kenikmatan yang telahpun diperolehinya.
Kesimpulannya, seluruh yang berlaku dalam kehidupan manusia merupakan ujian dari Allah s.w.t., samada dalam bentuk kesenangan atau dalam bentuk musibah. Apa yang penting, seseorang hamba yang memahami rahsia di sebalik ujian tersebut, maka dia perlulah sentiasa beradab dengan Allah s.w.t., samada di waktu susah atau senang, dengan kesabaran dan kesyukuran, kerana ianya merupakan pintu-pintu untuk meningkatkan darjat seseorang hamba di sisi Allah s.w.t.. Al Fadhil Ustaz Mukhlis @ AlFaqir101 Bismillah...Alhamdulillah..Selawat dan Salam buat Rasulillah s.a.w... Rindu tidak dapat diterjemahkan dengan bahasa manusia, kerana perbendaharaan perasaan itu lebih luas dari perbendaharaan kata.
Oleh yang demikian, rindu ialah, suatu perasaan yang biasanya timbul, dari suatu kejauhan, perpisahan, dan pemisahan antara dua jiwa yang saling mengasihi.
Dalam dunia sufi, kiblat rindu mereka ialah Allah s.w.t., kerana hanya Dialah, yang ada pada pandangan hidup mereka. Setelah mereka merealisasikan makna "tawajjuh" dengan penuh sidq (kejujuran) kepada Allah s.w.t., maka timbullah satu perasaan membuak untuk semakin hampir dengan Maha Dia, yang hanya di hadapan mereka.
Itulah permulaan rindu hakiki, takkala merindui untuk menghampiri dengan Allah s.w.t. yang mana, mereka menghadapakan wajah (bahkan seluruh kehidupan mereka) kepada-Nya.
Dari rindu yang membara, terhadap Pencipta yang Maha Esa, Sang Perindu memanjat hijab-hijab noda dan dosa, bahkan hijab-hijab cahaya, untuk sekurang-kurangnya menjenguk Dia yang dirinduinya.
Sang Perindu menyingkap satu persatu hijab antaranya dengan-Nya, dengan proses mujahadah (dari kaca mata hamba, anugerah dari sudut Uluhiyah), sehinggalah sampai ke tahap Jazbah yang merupakan jemputan khas dari Dia yang dirindui.
Semakin hampir dengan-Nya, semakin kenal Dia. Semakin kenal Dia, semakin cinta Dia. Semakin cinta Dia, semakin membara rindunya kepada-Nya. Ini kerana, makin dekat dengan Dia, makin tersembunyi Dia dari Sang Perindu.
Di sepanjang jalan sang perindu menuju Dia yang dirindui, tumbuh bunga-bunga cinta Ilahi dalam bentuk makrifat-makrifat, futuhat-futuhat, dan mukasyafat, bagi menyerikan perjalanan sang perindu, hadiah dari Dia yang dirindui.
Dengan kejujuran rindu dalam sang perindu, dia tidak terpukau dan terhenti dek keindahan bunga-bunga cinta-Nya tersebut, lantas terus berjalan kerana yang dirinduinya bukanlah bunga-bunga cinta-Nya, tetapi cinta-Nya, bahkan Dia yang Maha Pencinta.
Rindu dan cinta selari, bergerak bersama. Makin kenal diri sendiri yang serba hina, makin kenal Dia yang Maha Mulia. Sehinggalah, Allah s.w.t. memperkenalkan diri--Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dengan musyahadah.
Itulah wusul (sampai) kepada Dia yang dirindui, setelah keluar dari diri yang merindui. Setelah berjaya keluar dari diri yang merindui (hijab An-Nafs yang tertinggi), sampailah dia ke hakikat Dia yang merindui dan dirindui, sedangkan dia tiada rindu dan cinta, melainkan rindu dan cinta-Nya jua.
Ketika itu, kenallah dia, bahawa, Dialah (yang dirindui), sebenarnya yang merindui, dan dialah (sang perindu tersebut) sebenarnya yang dirindui oleh Ilahi s.w.t.. Kalau Allah s.w.t. tidak merinduinya, nescaya dia tidak mampu, bahkan tidak layak untuk mengecapi rindu kepada Allah s.w.t..
Setelah wusul, seorang hamba selalunya bermuamalah dengan-Nya sebagai sang kekasih (AlMuhib). Pada ketika itu juga, Allah s.w.t. memperkenalkan diri-Nya kepadanya sebagai Al-Mahbub Al-Hakiki, sehinggalah hamba tersebut mningkat dan terus menigkat. Apabila sudah tenggelam dalam lautan Ahadiah, maka tiada lahi dua, melainkan Satu, iaitu Al-Habib...
Rindu kepada selain Allah s.w.t. adalah satu kepalsuan.
Oleh itu, rindu ialah anugerah dari-Nya. Sentiasalah berdoa, mudah-mudahan Allah s.w.t. menjadikan kita di kalangan mereka yang merindui-Nya dan dirindui-Nya Amin..
Wallahu a'lam...
Al Fadhil Ustaz Mukhlis @ Al Faqir101 Skop Yang Cuba dibentangkan. 1.0 Rabitah dan Wasilah. 1.1 Rabitah dari segi bahasa. 1.2 Wasilah dari segi bahasa. 2.0 Rabitah dari segi istilah ahlil haq. 3.0 Wasilah dari segi istilah ahlil haq. 4.0 Pembahagian Rabitah 5.0 Mengapa perlu Rabitah 6.0 Rabitah dan wasilah dalam ilmu dan amal itu terjadi keatas seseoran murid kerana. 7.0 Rabitah Haq 8.0 Rabitah Bathil 9.0 Keperluan rabitah dan wasilah bagi setiap murid yang ingin menceraikan jahat menuju kepada baik. 10.0 Latihan dalam ilmu dan amal yang menuju baik. 11.0 Kata2 Sultan Auliya' Syeikh mahyuddin Abdul Qadir Jilani di dalam qasidah ghautsiah. 12.0 Pendapat beberapa ulama mengenai rabitah dan wasilah. 12.1 Syeikh Ahmad Hussain bin al-Dawsari 12.2 Syeikh Abdul Majid bin Muhamad al-Khani 12.3 Syeikh Hussain Ahmad Ad dusari 13.0 Hadis-hadis keharusan berabitah dan berwasilah. 14.0 Nas-nas yang mengharuskan berabitah dan bertawasilah. 1.0 RABITAH DAN WASILAH Rabitah dan wasilah adalah suatu cabang ilmu kesufian yang diajar oleh guru-guru sufi yang arif dan faham halnya kepada murid-muridnya untuk diamalkan akan dia di dalam menjalani jalan sufi yang muktabar melalui mana-mana ilmu dan amal yang benar sebagai jalan pintas untuk segera keluar dari daerah jahat zahir dan bathin kepada daerah baik zahir dan bathin. 1.1 Rabitah dari segi bahasa Tambatan ingatan kasih sayang yang terzahir di dalam hati sanubari seseorang terhadap seseorang yang disukai atau dikasihi hasil daripada memperolehi pemberian yang dihajati (sekali atau berulangkali) sehingga menjadi terbayang atau terukir gambar orang itu di dalam ingatannya dan tidak boleh dilupakan. 1.2 Wasilah dari segi bahasa Mengguna (menonjolkan) pangkat kemuliaan kebesaran seseorang yang disukai atau dikasihi yang menjadi sahabat atau taulan kenalan atau kekasih kepada seseorang yang dipohonkan hajat supaya hajat itu segera diperolehi atau dimakbulkan 2.0 Rabitah Dari Segi Istilah Ahlil haq. Tambatan ingatan kasih sayang terzahir terpacak kukuh di dalam hati sanubari seseorang murid sehingga nyata mesra kasih sayang ingatan itu keseluruh dirinya (murid) zahir dan bathin terhadap seseorang ulama’, atau solihin atau nabi2 dan rasul-rasul ‘alaihimussolatu wassalam samada masih hidup atau telah mati yang menjadi syeikhnya (gurunya) dan kepercayaannya ( paling kurang yakin atau lebih tinggi daripada itu, haqqul yakin, ‘ala haqqul yaqin dan ketasnya lagi) sebagai taqarrub dan tabarruk dirinya dengan kemuliaan dan ketinggian pangkat iman, islam dan ehsan syeikhnya itu di sisi hadzrat Allah dalam ilmu dan amalnya bagi menjalani jalan mencapai kemantapan makrifahnya akan Allah S.W.T. dalam hidup dan kehidupannya sehingga terukirlah rupa syeikhnya itu di dalam bathin hatinya dan terpancar keluar pada penglihatan mata kasar yang tidak lekang dalam apa juga suasana dan keadaan, setelah itu dinafikannya akan wujud zat yang lain, sifat yang lain, perbuatan yang lain berbetulan wujud zat Allah, sifat Allah dan af’al Allah yang hakiki dan serentak dengan itu difanakan akan wujud dirinya dan segala benda dan masa cair dan beku, zahir dan bathin dan wujud yang lain, sifat yang lain, perbuatan yang lain selain Allah. Samaada dikiri, dikanan, dihadapan, dibelakang, di atas, dibawah dan di dalam pada zatNya, sifatNya dan perbuatanNya sehingga terbit pada mata zahir nya yang wujud mutlak itu hanya zat Allah dan segala sifatnya dan perbuatanNya. Dikala itu jadilah ia orang yang semata-mata mengabdikan diri kehadzrat Allah, zat wajibal wujud disemua tempat, semua waktu, semua masa dan semua keadaan melalui lidahnya, anggotanya dan hatinya seumpama syeikhnya ( yakni telah tumbuh didalam dirinya iman dan taat seumpama syeikhnya walau sebesar zarah sekalipun dan terhakis pula kufur dan maksiat walau sebesar zarah sekalipun) dan kala itu jadilah murid itu orang yang telah masuk di dalam makna firman Allah:- “ Katakanlah Allah itu Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan. Dan tiada sesuatupun yang setara denganNya.” (Al ikhlas : Ayat ) “ Hanya kepada engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan”. ( Al Fatihah : Ayat 5) 3.0 Wasilah Dari Segi istilah Ahlil haq Menggunakan atau menonjolkan pangkat kemuliaan, kebesaran iman islam dan ehsan seseorang yang dikasihi Allah yang dijadikan syeikhnya di dalam ilmu dan amalnya samada ulama’, solihin, nabi2 dan rasul-rasul ‘alaihimussolatuwassalam yang masih hidup atau sudah mati sebagai tabarruk dan taqarrub dengan kemuliaan dan kebesaran ketinggian iman, islam dan ehsan syeikhnya itu di sisi hadzrat allah bagi memohon serta menghasilkan sesuatu yang baik daripada hadzrat Allah berupa keampunan di atas segala dosa besar atau kecil, keridhoaan , kasih sayang dan lain-lain diwaktu aman dan dhorurat di dunia dan akhirat. 4.0 Oleh yang demikian secara umumnya rabitah terbahagi kepada 3 jenis iaitu: a. Rabitah Tabi’i Iaitu ikatan atau pertautan yang berlaku secara kebiasaan (Fitrah) Contoh ikatan atau pertautan antara kaum keluarga.Misalnya Abu teringatkan ibunya atau Hassan mengingat nostalgianya bersama isterinya semasa muda-muda dahulu lalu beliau membayangkan saat-saat indah dikala pertemuan pertama yang membawa beliau dan isterinya bercinta terasa indahnya di dalam hati beliau saat-saat manis itu di dalam hatinya..(Ini bermakna si Hassan menambat hati atau mempertautkan hati dengan isterinya dan terhasillah kegembiraan dan kemanisan dihatinya bilamana peristiwa manis itu terbayang) b. Rabitah Sufli Iaitu ikatan atau pertautan hati dengan sesuatu yang bersifat rendah seperti mempertautkan hati dengan pangkat, harta,wanita ,kemegahan yang mana kesemua pertautan hati itu akhirnya mendatangkan mudharat terhadap orang tadi samada secara lahiriah mahupun ruhaniah.Dan ini adalah yang di cela oleh syara’ dan tidak mendatangkan sebarang manafaat ruhaniah sebaliknya akan menyebabkan hati orang yang menambat itu akan bertambah keras dan jauh dari Allah Ta’ala. c. Rabitah ‘Ulwi Iaitu ikatan hati atau mempertautkan hati dengan sesuatu yang bersifat tinggi seperti mempertautkan hati dengan syiar-syiar Allah atau dengan mempertautkan hati dengan orang-orang yang sholeh , atau dengan orang yang sudah nyata kewara’kannya , atau dengan Ulama' yang amilin dengan sahabat-sahabat nabi serta dengan kehararibaan baginda nabi Muhammad s.a.w. dan kesemua pertautan hati di alam ini adalah dengan satu tujuan saja iaitu sebenarnya untuk mempertautkan hati dengan Allah Ta’ala atau dengan perkataan sebenarnya ialah bermaksudkan Allah Ta’ala dan keredhaanNya dan tidak yang lainnya walau sebesar habuk sekalipun tiada tujuan yang lain .Sekiranya ada terselit tujuan yang lain walau sedikit pun maka rabitah tersebut bertukar menjadi Rabitah sufli kerana telah lari dari konsep Tauhid dalam ubudiyyah. 5.0 Mengapa perlu Rabitah ? a. Kerana perintah Allah Ta’ala Kita diwajibkan mempertautkan hati kita kepada Allah dan RasulNya dan dengan segala orang-orang muslim atas perintah Allah serta berjuang ke jalanNya kerana ianya perintah syara’ yang sangat nyata. b. Kerana ianya Sunnah Adapun mempertautkan hati dalam pengertian rabitah ‘Ulwi adalah jalan sunnah dan perkara ini berlaku di antara Rasul dan sahabat-sahabatnya yang mereka itu saling mempertambatkan hati mereka dengan kasih sayang atas sebab Allah Ta’ala dan keredhaanNya (Ukhuwah fillah) c. Kerana mempertautkan hati Mempertautkan hati adalah wasilah yang menyampaikan kepada kehampiran(Qurb) kepada Allah Ta’ala . Menambat atau mempertautkan hati ini amalan Rabitah mengikut kaedah sufi. Adapun ahli sufi menggunakan kaedah rabitah sebagai suatu wasilah supaya mendapat penghampiran (qurb) dengan Allah Ta’ala (rabitah ‘Ulwi). Pengertian rabitah secara sufi ini adalah berbentuk khususiah dan ianya menjadi suatu adab yang paling muakkad(utama) di kalangan kaum sufi.Di katakan ianya sebagai amalan khususiah kerana pengamal rabitah ini mestilah mempunyai syarat yang cukup sebelum mengamalkannya kerana mengelak dari salah faham dan salah penghayatan yang akhirnya mendatangkan fitnah bagi pengamalnya(yang tak cukup syarat) . Dan paling utama syaratnya ialah dia wajib memahami asas ilmu aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah sekurang-kurangnya fardhu ‘ain. Dan ada lagi syarat rukunnya bagi pengamal rabitah tersebut dan tahu serta faham bilamanakah rabitah itu di perlukan dan bilamanakah ia perlu tinggalkan sama sekali. Adapun makna rabitah atau cara menambat hati seorang murid Tariqat kepada syeikh(Guru Mursyid)nya ialah sepertimana yang di terangkan oleh Syeikh Daud Al Fathani di dalam kitab Dhiyaul Murid pada menyatakan adab berzikir yang keempat belas iaitu :
“ Bahawa mengkhayalkan(membayangkan di dalam hati atau pemikiran) rupa syeikhnya pada antara dua matanya. Maka iaitu terlebih sangat muakkad bagi memberi bekas. Maka di hadirkan rupa syeikhnya pada hatinya , dan menuntut penolong daripadanya. Dan di lihat bahawasenya ia penolong daripada penolong nabi kita . Dan hati nabi s.a.w. selama-lamanya berhadap kepada hadhrat Tuhannya. Maka apabila di kerjakan yang demikian itu maka limpah pertolongan ‘al Ilahiyyah’ daripada ‘Hadhrat Ilahiyyah’ kepada hati penghulu kita (Nabi Muhammad s.a.w.). Dan daripada hati penghulu kita Nabi Muhammad s.a.w. kepada segala hati masya’ikh daripada satu kepada satu hingga sampai kepada yang berzikir itu. Maka jadi dapat pertolongan dan mendapat pemberian Allah pada kita jika ada benar hatinya”. Bagi orang sufi/Tariqat cara mereka menambat hati dengan syeikhnya ialah dengan menggambarkan atau membayang rupa / diri syeikhnya sebelum berzikir (secara perseorangan) dengan tujuan mendapat limpahan ruhaniah dari sekelian syeikhnya yang terdahulu mengikut susur galur salasilah tariqatnya sehinggalah baginda Rasulullah s.a.w. yang senantiasa menerima limpahan rahmat dari Allah Ta’ala. Sebenarnya membayangkan rupa syeikh adalah salah satu cara dari berbagai cara untuk menambat hati dengan syeikh. Setengah pendapat cukup dengan niat saja bahawa syeikhnya itu hadhir bersama dalam berzikir ketika murid berzikir dengan tujuan mendapat keberkatan dari syeikhnya itu kesemuanya itu adalah tujuan yang sama dan terlingkup dalam makna rabitah juga. 6.0 Rabitah dan Wasilah dalam ilmu dan amal itu terjadi keatas seseorang murid kerana 6.1 Perhubungan silaturrahim dan mesra kasih sayang murid terhadap gurunya selepas murid itu menerima ilmu dan amal daripada gurunya serta beramal dengan ilmu dan amal itu bersungguh-sungguh. 6.2 Hati simurid akan sentiasa teringat akan gurunya di dalam mujahadahnya melalui ilmu dan amal yang diterimanya itu dan guru juga akan sentiasa teringat muridnya di dalam doanya. 6.3 Syeikhnya atau gurunya itu telah sampai kepada maqam iman, islam dan ehsan yang kamilah atau kamilatul kamilah di mana rohani dan jasmani syeikhnya itu ghaib atau ghaibul mutlak di dalam keagungan, kemuliaan, kebesaran ALLAH rabbul jalil di semua tempat waktu dan masa dan nyata pada diri syeikh itu berkat, maunnah, karomah di dalam ilmu dan amalnya. 6.4 Syeikh yang kamil atau kamil mukamil itu sentiasa dapat berhubung dengan rohani dan jasmani muridnya yang tidak putus hubungan silaturrahim dengannya diwaktu aman dan dhorurat sehingga jadilah murid itu sentiasa terbayang akan rupa syeikhnya (gurunya) lebih-lebih lagi dikala apabila bangkit cita-cita dan kehendak hati murid itu untuk melaksanakan kufur dan maksiat. 6.5 Ingatan mesra kasih sayang murid terhadap syeikhnya yang kamil atau kamil mukamil itu akan membuahkan lipat ganda ingatan kasih sayang murid itu kepada Allah didalam ibadahnya dan ubudiahnya. 6.6 Terhindar murid itu daripada rabitah dan wasilah seperti yang dibuat oleh orang kafir, jahil, fasiq, dimana mereka mengiktiqadkan gambar yang terukir atau terupa didalam ingatan itu sebagai tuhan dan mereka dzohirkan dengan menempa gambar itu didalam alam ini dan mereka muliakan gambar yang mereka tempa itu dalam segala rupa bentuk pemujaan mengikut hawa nafsu yang jahat di dalam khayal syak, dzon dan waham. Sebagai ubudiah dan mengenang jasa atau mempamirkan rasa cinta atau ingatan kasih sayang yang mendalam yang ditumpukan kepada gambar yang ditempa itu sahaja. 7.0 Rabitah Haq Ialah diatas makna Tabarruk dan taqarrub diri kehadrat Allah dengan penuh yakin , haqqul yakin, ‘ala yakin, ‘ala haqqul yakin dengan kemuliaan, kebesaran, ketinggian pangkat iman, islam dan ehsan mereka itu di sisi Allah samada dia seorang ulama’, solihin, nabi-nabi dan rasul-rasul ‘alaihimussolatuwassalam yang masih hidup atau sudah mati sebagai jalan pintas supaya segera dikurniakan baik, paling baik, agung baik, dan maha baik oleh Allah seumpama Allah kurniakan kepada orang yang Allah jadikan sebagai rabitah dan wasilah itu dan diharap supaya benar2 nyata maunnah dan karomah yang hakiki yang tiada sangkut paut atau hubung kait dengan segala rupa bentuk bantuan khadam bersyarat atau yang datang mengikut jalur keturunan atau pemujaan, walaupun karomah atau maunnah itu bukan menjadi tujuan dan matlamat di dalam ilmu dan amalnya. Ia suatu pakaian yang dikurniakan oleh Allah pada ahli-ahlinya sahaja. Syeikh daud al fathoni menjelaskan di dalam manhalus sufi.. ” orang yang tiada karomah umpama anak yang tiada bapa”. Berkaitan rabitah wasilah maksud hadis :- “ Orang yang terbaik dikalangan kamu ialah orang yang apabila dilihat nya, dapat mengingatkan kamu kepada Allah, percakapannya menambahkan ilmu kamu, perbuatannya (amalannya) mendekatkan kamu kepada akhirat” Riwayat daripada al hakim daripada Abdullah bin omar. Contoh kaedah rabitah yang haq ialah membawa ingatan selintas sebelum memulakan amalan zikir khafi bagi mendapatkan keteguhan dan keyakinan agar semasa menyelam dalam amalan zikirulLah itu nanti tidak dicelahi oleh syak,dzan dan waham,dan apabila mencapai maksud dalam zikir nya itu yakni hudurul qalbi/fana/jazbah Ilahiah,maka di situ tidaklah dibawa lagi ingatan terhadap guru/rabitah.Ini yang telah ditarbiahkan asal asal oleh mana-mana pemuka pemuka mursyid Naqsyabandiah yg muktabarah. Adapun rabithah yang diperbolehkan seperti : a. Rabithah seorang makmum terhadap imamnya dalam shalat Seorang makmum wajib berniat menjadi makmum dan konsekwensinya dia harus mengikuti imam sepenuhnya. Manakala makmum menyalahi perbuatan imam,umpamanya imam sujud dia rukuk dsa maka shalat si makmum tadi mejadi batal. b. Rabithah seorang anak terhadap kedua orang tuanya Di dalam Q.S Al Irsa ayat 23 Allah menyuruh kita berbuat baik kepada orang tua, dan melarang menyakiti hati keduanya. Tetapi kita diperintahkan menyenangkan hati keduanya. c. Rabithah antara isteri kepada suaminya Di dalam Q.S An Nisa ayat 21 Allah berfirman : Dan mereka (isteri-isterimu) dengan akad nikah telah mengambil dari kamu janji yang kokoh kuat.Dengan akad nikah maka terjadilah rabithah antara suami isteri yangmenimbulkan hak dan kewajiban masing-masing. Dengan akad nikah akan terjadilah rasa kasih dan sayang antara keduanya yang disalurkan melalui berkahnya nikah seperti yang ditegaskan dalam Q.S Ar Rum ayat 21. d. Rabithah antara murid dengan guru Tidak ada di dunia ini seseorang memperoleh ilmu tanpa melalui guru, langsung atau tidak langsung. Seorang murid dengan sungguh-sungguh menunut ilmu dari gurunya, dan seorang guru dengan tulus ikhlas memberikan pendidikan dan pengajaran kepada muridnya, hingga dengan demikian terjadilah hubungan yang harmonis antara keduanya. Murid yang mendapatkan ilmu pengetahuan dari gurunya dengan cara demikian akan memperoleh ilmu yang berkah dan bermanfaat. 8.0 Rabitah Bathil Rabitah dan Wasilah yang dibuat oleh orang-orang kafir atau yang seumpama dengannya. Rabitah dengan makna menzahirkan rupa diri sesesiapa sahaja yang memberi kebaikan kepadanya mengikut khayal syak, dzon dan waham. Dengan mengaku sebagai Tuhan yang disembah dengan sebenarnya dan menempa rupa gambarnya itu pada mana-mana tempat di dalam alam ini untuk disanjung, dipuja mengikut kehendak hawa nafsu yang jahat, paling jahat, dan agong jahat sebagai mengenang jasa terhadap sesuatu pemberian atau hajat yang diperolehi atau menzahirkan rasa ingatan kasih saying yang hanya merupakan hayalan syak, dzon dan waham. Manakala contoh pembawaan rabitah yg batil ialah pembawakan rabitah dan beriktikad bahawa rabitahlah yang membekas atas segala apa yang berlaku spt kemalangan,kecelakaan pada diri nya,dan meyakini bahawa guru nya lah/rabitahlah yang membuatkan dia memperolehi sesuatu keuntungan/nikmat.,dan ada juga yang beriktikad bahawa guru nya mengetahui segenap perbuatan nya di mana sahaja dia berada.Seolah olah di sini tauhid nya terletak pada tangan guru/rabitah tersebut. Ini antara contoh yg berlaku di kalangan pengamal pengamal tariqah. 9.0 KEPERLUAN RABITAH DAN WASILAH BAGI SETIAP MURID YANG INGIN MENCERAIKAN JAHAT MENUJU KEPADA BAIK. Sejarah silam banyak memberi pengajaran dan bukti nyata bahawa rabithah dan wasilah di atas makna tabarruk dan taqarrub dalam ilmu dan amal menuju kepada baik seperti yang diajar oleh nabi-nabi dan rasul-rasul, ulama’ muhaqqiqin memang ada dan menjadi sesuatu tutntutan yang diharuskan yang berbeza sekali dengan rabitah dan wasilah yang dibuat oleh orang kafir atau orang yang mengambil ilmu dan amal daripada orang-orang jahil, fasiq, munafik dan seumpamanya di mana rabitah dan wasilah yang mereka buat itu di dalam keadaan khayal syak, dzon dan waham di atas makna ta’abud memuja menghormati sebagai mengenang jasa menumpu dan menzahirkan ingatan rasa kasih sayang. Antara rabitah dan wasilah yang benar itu seperti kisah Nabi Allah Yusof ‘alaihissalam dengan Siti Zulaikha yang mana Nabi Yusof ‘alaihissalam hampir-hampir tergoda dengan telatah dan godaan Siti Zulaikha ke atas dirinya. Maka di saat itulah ALLAH memperlihatkan rupa ayahandanya Nabi Allah Yaakob a.s kepada baginda. Maka ketika itu juga baginda terus lari dari godaan Siti Zulaikha dan Siti Zulaikha pula mengejar baginda dari arah belakang lalu memegang bajunya hingga baju baginda terkoyak. Sebagai membuktikan kebenaran baginda ALLAH memerintahkan seorang kanak-kanak kecil yang sedang berada di dalam buaian bercakap dengan lidah yang fasih sebagai saksi yang memihak kepada Baginda nabi Allah Yusof a.s. Maka rabitah dan wasilah yang sesat lagi menyesatkan adalah sebagaimana Musa As Samiri (Dajjal) laknatullah mengajar kepada pengikut-pengikut Nabi Allah Musa a.s sepeninggalan baginda pergi bermunajat di Bukit Tursina bagi menerima kitab Taurat. Musa As Samiri mengajar umat Nabi Allah Musa a.s menempa patung anak lembu daripada emas yang mereka rampas daripada orang qibti Mesir semasa mereka dihalau dan diburu oleh Fir’aun dan bala tenteranya. Musa As samiri menghidupkan anak lembu itu dengan mencampurkan tanah bekas tapak kaki kuda Jibrail a.s kedalam emas yang ditempa itu. Setelah patung anak lembu itu hidup dan boleh bercakap-cakap maka Dajjal mengarahkan umat Nabi Allah Musa a.s mengadakan upacara pemujaan diluar batas syariat nabi Allah Musa a.s. sebagai memperhambakan diri dan menghormati mengikut selera hawa nafsu yang jahat dalam keadaan khayal, syak, dzon dan waham. Maka rabitah dan wasilah yang seumpama inilah yang diharamkan oleh seluruh ulama’-ulama’ islam ke atas orang-orang islam melakukan akan dia sepanjang zaman kerana menerjunkan diri seseorang murid itu kedalam kufur dan maksiat yang lebih mendalam Adapun Rabitah di atas nama tabarruk dan taqarrub seperti yang berlaku ke atas Nabi Allah yusof a.s maka ia diharuskan keatas mereka yang mengambil ilmu dan amal daripada ulama’-ulama’ muhaqqiqin dan melatih diri dengan ilmu dan amal itu untuk keluar daripada dosa besar dan kecil menuju kepada baik, paling baik, agong baik dan maha baik dengan ijma’ seluruh ulama’ islam yang muhaqqiqin. Ulama’-ulama’ islam yang menolak rabitah dan wasilah di atas makna tabarruk dan taqarrub itu ialah orang-orang yang nakal yang masih berada di atas sifat-sifat mazmumah walaupun mempunyai sijil-sijil kelulusan (Ba, Ma & PhD) kedudukan pangkat dan banyak ilmu dan amal dan diharap mereka akan menjadi seperti Imam Ahmad Ibnu Hanbal dan Imam Al ghazali dan mereka yang seumpama dengannya Orang-orang yang menerima Ilmu daripada rasul khasnya di zaman Nabi Muhammad S.A.W. berpecah kepada beberapa kelompok atau kumpulan antaranya:- 9.1 Kumpulan yang betul-betul menerima ilmu dan amal itu serta bersungguh-sungguh melatih diri zahir dan bathin dengan ilmu dan amal itu menuju kepada terpelihara dosa sepenuhnya serta istiqomah diatasnya selama-lamanya. Kelompok inilah yang menjadi pewaris kepada sekalian nabi-nabi dan rasul-rasul dalam ilmu dan amal dan menjadi uswatun hasanah pada zamannya. Contohnya Abu Bakar, Omar, Othman, Ali r.a dan baki daripada 10 sahabat dijamin syurga dan mereka yang lainnya yang seumpama mereka itu pada zahir dan bathin sepanjang zaman selagi tidak berlaku qiamah. Mafhum Firman Allah :- “ Dia (Allah) yang mengutus RasulNya dengan (membawa) petunjuk yang lurus dan agama yang (benar yang datang dari sisi hadzratNya) supaya jadilah agama Islam itu meninggi dan menang mutlak di atas semua agama yang lain ( kerana agama yang lain itu ciptaan manusia yang menjadi penganjur dan pelopornya sahaja, yang tidak ada padanya mukjizat) dan cukuplah Allah sahaja yang menjadi saksi . Muhammad itu pesuruh Allah, orang2(mukmin) yang bersama dengan dia sangat keras tindakannya terhadap orang2 kafir dan sangat mesra kasih saying sesama mereka (mukminin/at) Engkau lihat mereka itu sentiasa ruku’, sujud dan semata-mata mengharapkan kurnia daripada Allah dan Keredhoannya sahaja. Mereka itu dapat dikenal pasti kerana ada pada diri mereka itu tanda sujud kepada Allah. ( zahir atau nyata cahaya keimanan, keselamatan dan keehsanan yang terang benderang pada diri mereka itu.) (Surah al fat-h ayat 28-29) Kalau di zaman Rasulullah s.a.w puak-puak ini dapat dikenal pasti sebagai orang-orang yang paling kehadapan menolong Allah dan rasulNya dan agamaNya ialah mereka yang membentengkan diri mereka sendiri menangkis serangan-serangan musuh seperti yang berlaku di dalam peperangan Uhud. Mereka juga orang-orang yang pertama mengambil Bai’atul ridzuan di Hudaibiah daripada Rasulullah s.a.w. Mereka juga orang-orang yang membariskan diri di dalam peperangan Hunain bersama Rasulullah s.a.w setelah jemaah tentera Islam yang banyak melarikan diri meninggalakan Rasulullah s.a.w kerana gerun dengan serangan bala tentera ahzab. Di dalam peperangan itu Allah memberi kemenangan total (mutlak) kepada Rasulullah s.a.w dan orang-orang mukmin. Orang yang seumpama tersebut memang wujud disepanjang zaman selagi tidak berlaku kiamat. Tetapi didalam sesuatu keadaan tertentu mungkin mereka ini menyembunyikan diri. Mereka melaksanakan dakwah menyeru amar ma’aruf nahi mungkar itu dalam suasana dan keadaan berhimah yang hanya mereka sendiri sahaja yang tahu dan faham kenapa mereka berada seperti itu. Mereka ini golongan ulama’-ulama’ dan solihin-solihin yang muhaqqiqin umah nabi Muhammad s.a.w sepanjang zaman. 9.2 Kumpulan yang betul-betul menerima ilmu dan amal itu daripada Rasulullah atau daripada kelompok yang pertama sepanjang zaman dan berusaha melatih diri zahir dan bathin dengan ilmu dan amal itu seperti kelompok pertama untuk menuju terpelihara daripada segala dosa, tetapi masih terlekat dengan dosa-dosa kecil namun segera bertaubat. Mereka ini ialah golongan ulama’-ulama’ dan orang-orang soleh umat Nabi Muhammad s.a.w. 9.3 Kelompok yang menerima ilmu dan amal tetapi tidak berusaha bersungguh-sungguh seperti kelompok (1) dan (2) bagi melatih diri keluar daripada dosa besar dan kecil. Mereka itulah golongan orang-orang fasiq umat Muhammad s.a.w yang terdiri daripada golongan Ulama’, orang-orang yang zahirnya nampak soleh atau orang awam umat Muhammad s.a.w sepanjang zaman. Terkadang mereka itu hanya terikut-ikut sahaja di dalam menerima ilmu dan amal mungkin oleh sebab ada kepentingan atau sesuatu hajat untuk dihasilkan atau ada penyakit untuk Allah disembuhkan atau dengan sebab malu dengan suasana dan keadaan. 9.4 Kelompok yang pura-pura menerima ilmu dan amal dan pura-pura pula dalam melatih diri zahir dan batin dengan ilmu dan amal itu. Akhirnya ada di antara mereka menolak ilmu dan amal yang padanya mereka terima samada nyata atau tersembunyi. Mereka itulah orang-orang munafiq atau murtad daripada Umat Muhammad s.a.w sepanjang zaman. Dua kelompok terakhir inilah paling ramai dikalangan umat Muhammad s.a.w dan terjebak pula dengan berbagai ragam ilmu dan amal yang sesat lagi menyesatkan yang tergolong di dalam salah satu 72 puak yang sesat dalam aqidah, terjebak pula di dalam bidaah dholalah yang haram dan karohah dalam syariat, juga terjebak di dalam salah satu 13 puak sesat di dalam kesufian terikat dengan khadam-khadam bersyarat, saka baka (keturunan) dan lain-lain. Seruan dakwah dalam menyeru ma’aruf dan mencegah mungkar yang paling berkesan ialah yang datang dari kelompok (1) dan (2) kerana mereka itu orang-orang yang dipercayai iman, islam dan ihsan serta mempunyai salasilah di dalam ilmu dan amalnya sehingga kepada Rasulullah s.a.w dan mereka pula ada rabitah dan wasilah di atas makna tabarruk dan taqarrub dalam ilmu dan amalnya. Maka golongan inilah yang paling layak mengajak manusia kembali kepada kebaikan dan paling berkesan di dalam kerja buatnya itu. Manakala golongan yang menolak rabitah dan wasilah tidaklah termasuk di dalam kumpulan yang sepatut layak mengajak manusia kepada amar ma’ruf nahi mungkar, kerana mereka sendiri berada di dalam kemungkaran samada fasiq, dzolim, munafiq atau murtad. Bersambung Tingkatan Zuhud
Hakikat zuhud ialah menyingkirkan apa apa yang semestinya disenangi dan diingini oleh hati, kerana yakin ada sesuatu yang lebih baik untuk meraih darjat yang tinggi di sisi ALLAH.
Syeikh Abdul Samad Al Palimbani mengatakan bahawa ada rukun kezuhudan.
1. Meninggalkan sesuatu kerana menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi 2. Meninggalkan keduniaan kerana mengharapkan akhirat. 3. Meninggalkan segala sesuatu selain ALLAH kerana mencintaiNYA.
Sebagai contoh untuk zuhud tingkat ini, ada satu kisah seorang sahabat Nabi ternama,Haritsah. Nabi SAW bertanya “Bagaimana kamu hari ini, wahai Haritsah?
"Dia menjawab,Aku sungguh beriman, ya rasulullah"
"Apa buktinya?" tanya Nabi. Dia menjawab,"Aku telah memalingkan jiwaku dari dunia ini. Itulah sebabnya di siang hari aku haus dan di malam hari kau terjaga, dan rasa rasanya aku melihat Arasy Tuhanku menghampiriku, dan para penghuni syurga sedang bersuka ria dan para penghuni neraka sedang menangis". Nabi SAW bersabda,"itulah seorang mukmin yang hatinya telah dibukakan ALLAH. Kau telah tahu Haritsah, maka camkanlah."
Imam Ahmad Ibnu Hambal mengklasifikasikan tingkatan zuhud yakni 1. Zuhudnya orang orang awam ialah meninggalkan hal hal yang haram 2. Zuhud orang orang yang khawas (khusus) iaitu meninggalkan hal yang berlebih lebihan (al fudhul) meskipun barang halal. 3. Zuhud orang Arif iaitu meninggalkan segala sesuatu yang dapat memalingkan daripada mengingati ALLAH.
Al Imam Ghazali pula membahagikan zuhud kepada tiga peringkat yakni
1. Tingkat terendah ialah menjauhkan dunia agar terhindar dari hukuman di akhirat 2. Tingkat kedua ialah mereka yang menjauhi dunia kerana ingin mendapatkan imbalan di akhirat 3. Tingkat tertinggi ialah zuhud yang ditempuh bukan lagi kerana takut atau harap, tetapi semata mata kerana cinta kepada ALLAH Ta’ala.
| |